AJAL tak bisa diduga dan diterka. Datangnya secepat kilat, tak disangka-sangka, tanpa permisi dulu, namun pasti. Bisa saja seseorang, saat pagi hari sehat walafiat, tapi sore hari sudah terbujur kaku. Ada pula orang yang sudah lama sakit parah , tapi ajal tak juga datang menjemput. Inilah rahasia Tuhan yang tak seorang pun bisa mengetahuinya.
Siapa pula yang bisa menyangka Rahmat Nugraha, warga Bojongsoang, dijempul ajal secara mengenaskan. Sebutir peluru mengakhiri hidup karyawan sebuah supermarket itu. Padahal, siang harinya, Rahmat segar bugar. Ia berpamitan kepada keluarganya, kepada istri dan anak-anaknya, untuk berjihad mencari nafkah.
Saat melewati daerah Samsat yang biasa ia tempuh ketika pulang kerja, tiba-tiba terdengar letusan. Entah letusan peluru, entah suara ban meletus. Yang pasti, Rahmat merasakan punggungnya berdarah. Belakangan, saat di rumah sakit, diketahui sesuatu yang menembus punggung Rahmat itu adalah sebutir peluru.
Pertanyaannya, peluru milik siapa yang menewaskan Rahmat itu? Tanpa sebab apapun, tiba-tiba saja sebutir peluru itu nyelonong ke punggung Rahmat. Tanpa pernah Rahmat mengharapkannya. Peluru nyasar? Salah sasaran? Atau memang sebuah ketidaksengajaan?
Ini bukan kejadian pertama. Beberapa waktu lalu, seorang bocah sekolah dasar di Margacinta juga roboh tertembak peluru nyasar. Tidak diketahui asal-muasal peluru itu. Hanya memang diketahui, saat bersamaan dengan kejadian itu, tak jauh dari lokasi sekolah, aparat keamanan tengah menguber penjahat dan sempat melepaskan tembakan peringatan.
Tapi kasus ini pun tak berujung. Tidak diketahui siapa pemilik peluru itu. Atau dari senjata siapa peluru itu berasal. Hal yang sepertinya juga bakal menimpa Rahmat. Ia meninggal tanpa diketahui siapa penembaknya.
Bicara soal senjata, yang biasa memegangnya adalah aparat keamanan. Beberapa orang sipil pun memegang senjata, asal dengan izin. Sejak beberapa kali terjadi peristiwa aparat membabibuta melepaskan tembakan secara serampangan dan menewaskan sejumlah orang, izin untuk memegang senjata diperketat. Bahkan anggota polisi yang memegang senjata harus mengikuti psikotes secara rutin.
Sejatinya, kalau hasil uji kejiwaan itu benar, orang yang bersangkutan tidak akan sembarangan melepaskan tembakan. Ia sudah memiliki kestabilan emosi sehingga tak mudah menghamburkan peluru tanpa alasan. Kalaupun misalnya seorang polisi tengah mengejar penjahat, ada aturan atau alasan kuat yang menyebabkan ia harus menembak penjahat itu.
Semua itu memang tergantung manusianya. The man behind the gun, begitu ungkapan dari Barat. Senjata apapun, tidak akan berdaya guna atau mengakibatkan hal buruk, di tangan orang yang memiliki niat lurus. Tapi di tangan orang berhati bengkok, senjata kecil sekalipun bisa menyebabkan orang lain celaka.
Jadi milik siapa peluru yang menewaskan Rahmat itu? Adakah orang yang secara ksatria akan mengaku dirinyalah yang melepaskan tembakan itu. Rasanya kita hanya bisa berharap, orang berhati mulia seperti itu masih ada di zaman ini. (*)