Archive for August, 2007

Peluru Memang tak Bermata

August 21, 2007

 AJAL tak bisa diduga dan diterka. Datangnya secepat kilat, tak disangka-sangka, tanpa permisi dulu, namun pasti. Bisa saja seseorang, saat pagi hari sehat walafiat, tapi sore hari sudah terbujur kaku. Ada pula orang yang sudah lama sakit parah , tapi ajal tak juga datang menjemput. Inilah rahasia Tuhan yang tak seorang pun bisa mengetahuinya.

Siapa pula yang bisa menyangka Rahmat Nugraha, warga Bojongsoang, dijempul ajal secara mengenaskan. Sebutir peluru mengakhiri hidup karyawan sebuah supermarket itu. Padahal, siang harinya, Rahmat segar bugar. Ia berpamitan kepada keluarganya, kepada istri dan anak-anaknya, untuk berjihad mencari nafkah.

Saat melewati daerah Samsat yang biasa ia tempuh ketika pulang kerja, tiba-tiba terdengar letusan. Entah letusan peluru, entah suara ban meletus. Yang pasti, Rahmat merasakan punggungnya berdarah. Belakangan, saat di rumah sakit, diketahui sesuatu yang menembus punggung Rahmat itu adalah sebutir peluru.

Pertanyaannya, peluru milik siapa yang menewaskan Rahmat itu? Tanpa sebab apapun, tiba-tiba saja sebutir peluru itu nyelonong ke punggung Rahmat. Tanpa pernah Rahmat mengharapkannya. Peluru nyasar? Salah sasaran? Atau memang sebuah ketidaksengajaan?

Ini bukan kejadian pertama. Beberapa waktu lalu, seorang bocah sekolah dasar di Margacinta juga roboh tertembak peluru nyasar. Tidak diketahui asal-muasal peluru itu. Hanya memang diketahui, saat bersamaan dengan kejadian itu, tak jauh dari lokasi sekolah, aparat keamanan tengah menguber penjahat dan sempat melepaskan tembakan peringatan.

Tapi kasus ini pun tak berujung. Tidak diketahui siapa pemilik peluru itu. Atau dari senjata siapa peluru itu berasal. Hal yang sepertinya juga bakal menimpa Rahmat. Ia meninggal tanpa diketahui siapa penembaknya.

Bicara soal senjata, yang biasa memegangnya adalah aparat keamanan. Beberapa orang sipil pun memegang senjata, asal dengan izin. Sejak beberapa kali terjadi peristiwa aparat membabibuta melepaskan tembakan secara serampangan dan menewaskan sejumlah orang, izin untuk memegang senjata diperketat. Bahkan anggota polisi yang memegang senjata harus mengikuti psikotes secara rutin.

Sejatinya, kalau hasil uji kejiwaan itu benar, orang yang bersangkutan tidak akan sembarangan melepaskan tembakan. Ia sudah memiliki kestabilan emosi sehingga tak mudah menghamburkan peluru tanpa alasan. Kalaupun misalnya seorang polisi tengah mengejar penjahat, ada aturan atau alasan kuat yang menyebabkan ia harus menembak penjahat itu.

Semua itu memang tergantung manusianya. The man behind the gun, begitu ungkapan dari Barat. Senjata apapun, tidak akan berdaya guna atau mengakibatkan hal buruk, di tangan orang yang memiliki niat lurus. Tapi di tangan orang berhati bengkok, senjata kecil sekalipun bisa menyebabkan orang lain celaka.

Jadi milik siapa peluru yang menewaskan Rahmat itu? Adakah orang yang secara ksatria akan mengaku dirinyalah yang melepaskan tembakan itu. Rasanya kita hanya bisa berharap, orang berhati mulia seperti itu masih ada di zaman ini. (*)

Korupsi Membawa Sengsara

August 1, 2007

SEBANYAK 14 organisasi masyarakat (Ormas) Islam mendeklarasikan Jihad Bersama Melawan Koruptor BLBI, beberapa waktu. Ormas-ormas itu di antaranya Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Persis, Al Irsyad, dan sebagainya.

Deklarasi itu merupakan keprihatinan yang mendalam dari umat Islam atas korupsi yang seakan sudah menjadi budaya, mulai tingkat pejabat sampai rakyat jelata.

Bagaimanapun korupsi memang menghancurkan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Saat ini, selain terorisme, korupsilah yang menjadi musuh utama kemajuan bangsa.

Kita sungguh prihatin sekaligus heran. Kejahatan korupsi itu bukanlah kejahatan kemarin sore. Sejak Indonesia merdeka pun, korupsi sudah terjadi. Bahkan ratusan tahun lalu, saat kerajaan- kerajaan Nusantara berjaya, korupsi sudah merajalela.

Tapi mengapa korupsi terus terjadi, hadir seolah menghantui jejak sejarah bangsa ini? Apakah hukuman penjara tak cukup membuat jera mereka-mereka yang akan berbuat korupsi?
Berapa banyak pejabat sekelas menteri yang terpaksa harus mendekam di bui?

Kita tahu, kasus korupsi Bulog zaman Orde Baru menyeret Beddu Amang, dan juga Rahardi Ramelan masuk LP Cipinang. Tak cuma pejabat, intelektual sekelas Nazarudin Syamsudin, Rusadi Kantaprawira, dan Mulyana W Kusumah, pun terpaksa harus merasakan dinginnya sel penjara, gara-gara korupsi.

Di Jawa Barat sendiri, yang paling aktual adalah kasus korupsi dana APBD yang dilakukan Bupati Garut, Agus Supriyadi. Agus kini mendekam di sel Polres Jakarta Selatan di bawah pengawasan KPK.

Bagaimana seorang Bupati bisa dengan seenaknya memakai uang rakyat untuk memperkaya diri? Membangun vila mewah di Cireungit, mendirikan rumah megah di Muara Sanding, lalu kepemilikannya atas nama sang istri?

Tidak pernahkah Agus berkaca pada pengalaman para koruptor terdahulu? Ataukah Agus sangat pede bakal lolos dari jerat hukum? Apakah Agus tidak pernah berpikir, bahwa hasil pencurian uang negara itu akan merembet dan membawa sengsara keluarganya?

Sang istri terseret, harus pula berjam-jam diperiksa KPK. Bahkan boleh jadi, anak-anaknya kini tengah stres dan depresi. Betapa dulu mereka membanggakan ayahnya yang menjadi orang nomor satu di Kota Intan, tapi kini harus menanggung malu, aib, seumur hidup, gara- gara sang ayah tak tahan godaan lembaran uang.

Sekali kita korupsi, menyelewengkan harta negara, mencuri hak-hak rakyat, seumur hidup menanggung malu. Ibarat pepatah, sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya.

Dan sungguh, di zaman seperti ini, akan sangat sulit mencari pemimpin sekelas Umar bin Abdul Aziz, seorang khalifah di masa Bani Ummaiyah. Ia menanggalkan semua kekayaannya saat menjadi khalifah. Umar pula yang memakai lampu penerangan jika pekerjaannya berhubungan dengan publik, dan dia mematikannya lalu menyalakan lampu pribadi jika urusan publik itu sudah selesai.

Ia tak silau dengan gemerincing dirham, gemerincing dinar. Harta kekayaannya saat menjadi Khalifah sebanyak 40 ribu dinar dan saat dia meninggal, Umar hanya mewariskan 400 dinar. Tidak pernah terpikir sedikitpun untuk memperkaya diri dan keluarga. Adakah kita seperti itu? (*)