RAMADAN telah berlalu. Kaum Muslimin merayakan kemenangannya mengekang hawa nafsu dengan Idul Fitri. Orang-orang kota pun mudik atau pulang ke udik, untuk merayakan kemenangan itu bersama sanak-keluarga di kampung kelahiran.
Ketika Bandung ditinggal pergi para perantau lokal dan interlokal, suasana sangat lengang. Jalan raya serasa milik seorang. Tapi itu pun tak lama. Giliran pribumi asli Bandung dan sekitarnya yang menyerbu masuk ke pusat kota. Tempat-tempat wisata dan rekreasi jadi tujuan utama.
Kemacetan pun kembali terjadi. Gerundelan, kalau tidak dibilang caci maki, pun kadang kembali terlontar dari mulut yang sebulan sebelumnya terjaga benar. Padahal, puasa masih terasa di tenggorokan. Tapi baru sehari lepas, serasa hidup merdeka. Merdeka makan enak, merdeka makan banyak, dan merdeka lain-lain.
Sesungguhnya, hari-hari mendatang ini merupakan hari yang berat. Karena hasil pendidikan dan latihan (diklat) sebulan penuh bakal diujikan. Sejauh mana kesuksesan seseorang berpuasa, bisa terlihat di hari-hari selepas Ramadan ini.
Jangan sampai hawa nafsu, sebagai elemen yang paling ditahan saat berpuasa, merajalela kembali. Siapapun mereka yang lulus diklat Ramadan, tak peduli pejabat hingga rakyat jelata, seharusnya bisa menunjukkan perilaku yang baik atau akhlakul karimah.
Kebiasaan-kebiasaan buruk pra-Ramadan harus pupus. Mencuri uang rakyat, mencuri hak rakyat, menginjak kaum duafa, sudah bukan lagi perilaku pejabat. Yang terbetik adalah kasih sayang dan berlaku adil terhadap sesama. Karena itulah nilai-nilai yang diajarkan Ramadan kepada kita semua.
Ketika kembali ke tempat pekerjaan masing-masing, ingatlah ajaran Ramadan yang lalu. Saat mata ini hendak bergerilya memandang yang bukan hak, palingkan ke arah yang hak. Ketika telinga ini hendak mendengar gosip murahan, tulikan pendengaran kita. Saat tangan ini hendak berlaku tidak adil, mengambil hak orang lain, ingatlah akan “kepedihan yang luar biasa” di akhirat kelak. Ketika mulut ini hendak membicarakan orang lain dan berghibah, menyombongkan diri, ingatlah bahwa itu sama saja dengan memakan bangkai saudara sendiri.
Seandainya nilai Ramadan bisa diterapkan seutuhnya dalam kehidupan selama sebelas bulan mendatang, sungguh indah hidup ini. Kesabaran menjadi makanan utama, keikhlasan menjadi sarapan pagi, kesalehan menjadi langkah sehari-hari, dan masih banyak lagi. Ah, sungguhkah kita termasuk orang-orang yang mencapai maqam fitrah? Semoga. (*)
Tribun Jabar, Selasa 16 Oktober 2007