Persibku Sayang, Persibku Malang

By Machmud Mubarok

LENGKAP sudah perjalanan Persib. Maung Bandung itu kehilangan taring di akhir-akhir Liga Indonesia 2007. Impian untuk menjadi juara Liga, atau sekadar berlaga di Stadion Senayan, pupus sudah. Kehilangan angka saat melawan Pelita Jaya Purwakarta, semakin membenamkan Persib dari tangga 8 Besar.

Digelontori belasan miliar dari APBD 2007, ternyata tak membuat prestasi Persib jadi kinclong. Posisi nomor wahid di putaran pertama tak mampu dipertahankan awak Persib. Justru di putaran kedua ini, seluruh persoalan seakan mengemuka. Mulai dari transfer pemain, gaji, dan puncaknya adalah mundurnya Arcan Iurie dari posisi pelatih.

Apa sesungguhnya yang kurang di tubuh Persib? Pemain? Oke, secara kualitas, bagus, dan merata. Tidak kalah dengan tim lain. Bekamenga, Barkawi, Eka Ramdani, dan Zaenal Arief, adalah nama- nama yang dengan kemampuan bagus. Belum pemain lainnya yang tak kalah bagusnya. Pelatih? Saat masih dipegang Iurie, tentu kita tidak menyangsikan kemampuan Iurie.

Profesional? Ini yang perlu dipertanyakan. Saat beberapa pemain mempersoalkan gaji yang telat, tentu harus menjadi bahan pemikiran serius manajemen. Ketika beberapa pemain asing bingung dengan batas akhir kontrak, tentu ini terkait dengan profesionalitas manajemen. Bagaimana dulu saat membuat kontrak? Kok bisa-bisanya pemain hengkang begitu rupa, di saat genting ketika Persib membutuhkan pemain.

Lantas bagaimana soal semangat pemain? Faktor ini yang perlu digenjot terus. Agar slogan “Persib Nu Aing” menjadi langkah kerja keras setiap pemain. Tak hanya terdengar keras dalam slogan, tapi juga membuktikan kerja keras di lapangan. Soliditas dan solidaritas, serta percaya pada teman dan pada pelatih, adalah hal-hal remeh yang menjadi santapan sehari-hari pemain Maung Bandung dan ditunjukkan saat bermain.

Benarlah ungkapan Dede Iskandar. Mantan pemain belakang Maung Bandung itu masih berharap pemain Persib ekstra semangat di dua partai sisa. Bagaimanapun, partai sisa itu menentukan langkah Persib untuk menatap Liga Super.

Terkait kegagalan pada Liga Indonesia 2007 ini, tentu kata maaf dari pengurus tak cukup memupus kesedihan, kegundahan, kekecewaan, dan ke-seubeul-an, semua pendukung setia Persib. Walau begitu, fanatisme pendukung Persib tak akan pernah luntur. Di Liga manapun Persib bermain, pasti terus didukung. Liga Indonesia, Liga Super, Divisi Utama, atau Divisi I sekalipun, Persib tetap memiliki Bobotoh.

Kini saatnya, Persib memikirkan liga-liga di masa depan. Persiapan lebih matang biasanya memberi hasil yang lebih baik. Mulai dari sekarang, Persib sudah harus menyiapkan pasukan untuk liga 2008. Saatnya pula, Persib melirik kemampuan pemain-pemain muda yang main di klub. Perbaikan sistem pembibitan pemain merupakan syarat utama untuk mendapatkan pemain jempolan. Sehingga saat berlaga di Liga, tidak terlalu mengandalkan pemain asing, apalagi yang suka jalir jangji.

Mudah-mudahan, Persib mendatang adalah Persib yang profesional di segala lini. Manajemen, pemain, pelatih, dan lain-lain yang mendukung kesolidan Maung Bandung, tanpa menghamburkan uang rakyat. (*)

NB: Dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Senin 24 Desember 2007

Leave a Reply