KONSTELASI politik Jawa Barat mendekati berakhirnya masa pengembalian formulir pendaftaran calon gubernur (cawagub) dan calon wakil gubernur (cawagub) semakin memanas. Namun bisa dikatakan, belum ada pasangan yang betul-betul fiks, mantap, dan kokoh, bakal benar-benar melaju sebagai cagub dan cawagub.
Satu contoh saja, pasangan Agum Gumelar dan Rudi Harsa Tanaya yang diusung PDIP. Surat keputusan DPP PDIP memang mengamanatkan para kader partai banteng ini untuk memenangkan Agum-Rudi. Namun PPP pun mengklaim Agum bakal berpasangan dengan Nu’man Abdul Hakim.
Sampai kini, klaim siapa yang paling sahih, masih belum terjawab. Ini disebabkan sikap diam Agum Gumelar yang belum secara terbuka menyatakan kesediaannya diusung PDIP ataukah maju bersama Nu’man.
Partai Golkar sudah jelas mengusung Gubernur incumbent, Danny Setiawan, sebagai calon gubernur. Namun siapa yang bakal mendampinginya, masih belum diputuskan. Tinggal dua nama yang masuk dalam hitungan Partai Golkar untuk menjadi cawagub, yaitu Iwan R Sulandjana, mantan Pangdam III/Siliwangi, dan Ahmad Heryawan, cawagub dari PKS Jabar.
Golkar tengah menghitung secara matang calon pasangan Danny ini. Karena hanya dua nama saja yang tersisa, pilihannya gampang- gampang susah. Pilih nama yang familiar di masyarakat Jabar dan berpengalaman bekerjasama dengan incumbent tapi tidak memiliki basis massa partai, atau pilih nama yang tidak begitu familiar, tapi memiliki basis massa partai yang sangat solid. Di sisi lain, Partai Golkar pun harus mempertimbangkan pasangan calon lain, seandainya Agum-Nu’man benar-benar jadi kenyataan. Jadi tinggal seperti apa perhitungan elite Partai Golkar untuk memutuskan pasangan yang diharapkan menang dalam Pilgub.
Sementara partai-partai lain pun masih memiliki peluang untuk mengajukan calonnya. Jika tidak jadi berpasangan dengan Agum, jelas Nu’man harus maju dengan dukungan partai-partai lain. Belum lagi PKS, jika cawagubnya tidak diminati Partai Golkar. Tentu bakal ada pemetaan politik terbaru untuk memunculkan calon alternatif.
Bisa dipastikan, siapa yang bakal maju menjad cagub-cawagub baru bisa diketahui secara pasti saat detik-detik terakhir penutupan pengembalian formulir pendaftaran, Jumat 14 Desember 2007. Pertarungan elite akan semakin keras, dan kian menegangkan.
Dalam konteks proses awal Pilgub seperti saat ini, benar belaka bahwa politik adalah kepentingan dan cara untuk mencari kekuasaan. Sementara masyarakat awam, rakyat kebanyakan, hanya bisa menonton saja pertarungan elite, nun di atas sana itu. Siapa yang bakal jadi cagub dan cawagub untuk mereka pilih saat pencoblosan 13 April 2008, mereka lebih tidak tahu lagi. (*)
NB: Dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Senin 10 Desember 2007