Penimbun Selalu Jadi Kambing Hitam

By Machmud Mubarok

HARI-hari belakangan ini, antrean panjang warga terlihat di sejumlah sudut Kota Bandung. Warga, yang kebanyakan wong cilik pengguna minyak tanah, berharap mendapat jatah pembelian minyak tanah dari pangkalan minyak dekat tempat tinggal mereka.

Minyak tanah menjadi barang yang sulit didapat. Harganya pun melambung tinggi. Tak heran, setiap kedatangan pasokan minyak tanah ke pangkalan, langsung diantre warga. Merekalah para pengguna minyak tanah yang belum mendapat jatah tabung dan kompor gas hasil konversi.

Pekan lalu, pejabat Pertamina di Bandung mengatakan, memang ada pengurangan pasokan minyak tanah dari Pertamina ke agen dan pangkalan-pangkalan minyak. Besarnya hingga 60 persen. Terutama untuk daerah yang sudah mendapat jatah konversi gas.

Tapi hari kemarin, pernyataan itu dibantah. Tak ada pengurangan pasokan, katanya. Yang ada keterlambatan pasokan, karena hari libur.

Namun tetap saja antrean warga ini membuat pejabat kota kelimpungan dan kelabakan. Sampai-sampai memerlukan datang langsung ke Kantor Pertamina untuk menanyakan masalah kelangkaan minyak tanah di pasaran. Jawaban yang disampaikan pun tetap sama. Pasokan tidak berkurang, hanya distribusi yang terlambat, karena hari libur.

Dan ditambah satu hal lagi yang tak kalah penting. Kemungkinan ada spekulan yang bermain. Mereka menimbun minyak tanah untuk keperluan atau kepentingan sendiri. Bisa jadi penimbun itu adalah sebuah keluarga, yang masing-masing anggota keluarganya membeli satu jeriken besar minyak tanah untuk stok kebutuhan rumah tangga.

Dengan alasan takut kehabisan, hal itu sah-sah saja. Sangat mungkin pula, para penimbun dan spekulan itu adalah agen- agen yang sengaja ingin mengambil keuntungan besar dari kelangkaan minyak tanah.

Tapi itu baru kemungkinan dan dugaan, karena tak pernah dibuktikan. Yang terjadi adalah, pengambinghitaman spekulan dan penimbun minyak sebagai biang kerok kelangkaan minyak. Dan itu terjadi sejak dulu, bukan sekarang saja.

Sampai-sampai, Gubernur Jabar, Danny Setiawan pun meminta aparat untuk menindak tegas para penimbun minyak tanah. Dan Kapolda Jabar pun dengan sigap telah memerintahkan aparatnya untuk mengawasi distribusi minyak tanah.

Tapi tetap saja terjadi antrean warga mencari minyak tanah.
Setiap ada operasi pasar, di situlah orang-orang rela menanti walau didera hujan. Bagi sebagian besar warga, minyak tanah masih menjadi urat nadi penghidupan. Masih banyak penjual dagangan, gorengan, dan lain-lain yang setia menggunakan minyak tanah.

Lebih mengherankan lagi, setiap tahun berlangsung siklus kelangkaan minyak tanah, kok si spekulan dan penimbun minyak tanah itu susah sekali dicarinya. Yang paling gampang itu memang menunjuk jari. Apalagi kalau yang ditunjuk itu oknum, spekulan lagi. Karena namanya spekulan, ya susah mencarinya. Di setiap momen, pasti ada yang namanya spekulan. Sekarang tinggal pintar- pintarnya kita saja, menangkap spekulan atau justru jadi spekulan. (*)

Tribun Jabar, 4 Januari 2007

Leave a Reply