Archive for the ‘Sorot’ Category

Adakah Cagub-Cawagub yang Memikat Hati Anda?

January 23, 2008

 AKHIRNYA tiga pasangan bakal calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat dipastikan bakal bersaing memperebutkan sekitar 30 juta suara pemilih. Mereka adalah Danny Setiawan-Iwan Ridwan Sulandjana yang didukung Partai Golkar dan Partai Demokrat. Saat Pemilu 2004 lalu, Partai Golkar mendapat 28 kursi, sementara Demokrat 9 kursi. Pasangan ini menyebut diri Da’i.

Lalu pasangan kedua adalah Agum Gumelar-Nu’man Abdul Hakim dengan partai pengusung terbanyak, yaitu tujuh. PDIP, PPP, PKB, PBB, PKPB, PDS, dan PBR berkoalisi mengajukan pasangan Aman ini. Pasangan ketiga adalah Ahmad Heryawan-Dede Yusuf (Hade). Partai pengusung adalah PKS dengan 14 kursi, dan PAN yang mendapat 7 kursi.

Dari sisi kuantitas pendaftar, sebetulnya jumlah tiga pasangan sangat sedikit, dibandingkan dengan banyaknya penduduk Jawa Barat. Tapi setidaknya, nasib Jawa Barat tidak semiris DKI Jakarta, yang kaya akan tokoh nasional berpengalaman, tapi hanya mampu memunculkan dua pasangan calon gubernur dan wakil gubernur dalam Pilkada beberapa bulan lalu.

Walau harus diakui pula, Jawa Barat pun miskin tokoh dan figur. Karena hingga jelang pendaftaran, tokoh-tokoh yang muncul, itu itu juga. Berkutat di lingkaran figur yang sama.
Dari tiga pasangan itu, hanya satu pasangan yang benar-benar fresh dan murni kader partai, yaitu pasangan Hade.

Kita ketahui bersama, Danny Setiawan adalah Gubernur Jabar saat ini. Pasangannya, Iwan R Sulandjana adalah mantan Pangdam III/Siliwangi yang tentu mengenal betul lekuk-lekuk Jawa Barat. Lalu Agum Gumelar adalah mantan Menhub, Menko Polkam, dan Ketua Umum KONI Pusat. Sementara Nu’man masih menjabat sebagai Wakil Gubernur Jabar.

Dari sisi popularitas, nama Danny Setiawan dan Agum Gumelar yang paling nyongcolang. “Kebesaran” nama mereka tentu menjadi modal awal untuk mengeruk dukungan suara. Selain itu, mereka juga didukung partai besar dengan kucuran dana besar pula.

Tapi jangan lupa, pasangan Hade merupakan pasangan alternatif yang memberi harapan perubahan. Setidaknya, mereka adalah tokoh- tokoh baru, menawarkan sesuatu yang fresh. Di lain pihak, partai pendukung mereka pun tak bisa dianggap enteng, khususnya PKS. Selama ini, PKS dikenal sebagai partai dakwah dengan anggota yang sangat loyal dan solid. Dari 8 pilkada yang sudah digelar di sejumlah kota dan kabupaten di Jabar, 5 di antaranya dimenangkan oleh pasangan yang didukung oleh PKS.

Mulai hari ini, masyarakat Jabar akan disuguhi berbagai aksi simpatik para kandidat, walau masa kampanye belum dimulai. Spanduk dan baliho akan semakin banyak bertebaran. “Kesalehan sosial” berupa acara-acara sosial dan bantuan mendadak jadi menu utama untuk mengakrabi calon pemilih. Daerah yang dulu tak pernah dilihat, jadi agenda wajib untuk dianjangi.
Adakah dari ketiga pasangan calon gubernur dan wakil gubernur itu yang akan berhasil memikat hati Anda dan Anda rela memilihnya saat pencoblosan nanti? Itu semua tergantung cara mereka mendekati Anda dan tergantung kejernihan hati Anda untuk bersikap. Saatnya buka mata buka telinga buka rekam jejak untuk menelisik lebih jauh calon-calon pemimpin Tatar Sunda ini. Bagaimanapun, salah satu pasangan di antara tiga pasangan itu bakal menjadi pemimpin kita. Karena itu, jangan salah menentukan sikap. (*)

Penimbun Selalu Jadi Kambing Hitam

January 8, 2008

HARI-hari belakangan ini, antrean panjang warga terlihat di sejumlah sudut Kota Bandung. Warga, yang kebanyakan wong cilik pengguna minyak tanah, berharap mendapat jatah pembelian minyak tanah dari pangkalan minyak dekat tempat tinggal mereka.

Minyak tanah menjadi barang yang sulit didapat. Harganya pun melambung tinggi. Tak heran, setiap kedatangan pasokan minyak tanah ke pangkalan, langsung diantre warga. Merekalah para pengguna minyak tanah yang belum mendapat jatah tabung dan kompor gas hasil konversi.

Pekan lalu, pejabat Pertamina di Bandung mengatakan, memang ada pengurangan pasokan minyak tanah dari Pertamina ke agen dan pangkalan-pangkalan minyak. Besarnya hingga 60 persen. Terutama untuk daerah yang sudah mendapat jatah konversi gas.

Tapi hari kemarin, pernyataan itu dibantah. Tak ada pengurangan pasokan, katanya. Yang ada keterlambatan pasokan, karena hari libur.

Namun tetap saja antrean warga ini membuat pejabat kota kelimpungan dan kelabakan. Sampai-sampai memerlukan datang langsung ke Kantor Pertamina untuk menanyakan masalah kelangkaan minyak tanah di pasaran. Jawaban yang disampaikan pun tetap sama. Pasokan tidak berkurang, hanya distribusi yang terlambat, karena hari libur.

Dan ditambah satu hal lagi yang tak kalah penting. Kemungkinan ada spekulan yang bermain. Mereka menimbun minyak tanah untuk keperluan atau kepentingan sendiri. Bisa jadi penimbun itu adalah sebuah keluarga, yang masing-masing anggota keluarganya membeli satu jeriken besar minyak tanah untuk stok kebutuhan rumah tangga.

Dengan alasan takut kehabisan, hal itu sah-sah saja. Sangat mungkin pula, para penimbun dan spekulan itu adalah agen- agen yang sengaja ingin mengambil keuntungan besar dari kelangkaan minyak tanah.

Tapi itu baru kemungkinan dan dugaan, karena tak pernah dibuktikan. Yang terjadi adalah, pengambinghitaman spekulan dan penimbun minyak sebagai biang kerok kelangkaan minyak. Dan itu terjadi sejak dulu, bukan sekarang saja.

Sampai-sampai, Gubernur Jabar, Danny Setiawan pun meminta aparat untuk menindak tegas para penimbun minyak tanah. Dan Kapolda Jabar pun dengan sigap telah memerintahkan aparatnya untuk mengawasi distribusi minyak tanah.

Tapi tetap saja terjadi antrean warga mencari minyak tanah.
Setiap ada operasi pasar, di situlah orang-orang rela menanti walau didera hujan. Bagi sebagian besar warga, minyak tanah masih menjadi urat nadi penghidupan. Masih banyak penjual dagangan, gorengan, dan lain-lain yang setia menggunakan minyak tanah.

Lebih mengherankan lagi, setiap tahun berlangsung siklus kelangkaan minyak tanah, kok si spekulan dan penimbun minyak tanah itu susah sekali dicarinya. Yang paling gampang itu memang menunjuk jari. Apalagi kalau yang ditunjuk itu oknum, spekulan lagi. Karena namanya spekulan, ya susah mencarinya. Di setiap momen, pasti ada yang namanya spekulan. Sekarang tinggal pintar- pintarnya kita saja, menangkap spekulan atau justru jadi spekulan. (*)

Tribun Jabar, 4 Januari 2007

Persibku Sayang, Persibku Malang

December 29, 2007

LENGKAP sudah perjalanan Persib. Maung Bandung itu kehilangan taring di akhir-akhir Liga Indonesia 2007. Impian untuk menjadi juara Liga, atau sekadar berlaga di Stadion Senayan, pupus sudah. Kehilangan angka saat melawan Pelita Jaya Purwakarta, semakin membenamkan Persib dari tangga 8 Besar.

Digelontori belasan miliar dari APBD 2007, ternyata tak membuat prestasi Persib jadi kinclong. Posisi nomor wahid di putaran pertama tak mampu dipertahankan awak Persib. Justru di putaran kedua ini, seluruh persoalan seakan mengemuka. Mulai dari transfer pemain, gaji, dan puncaknya adalah mundurnya Arcan Iurie dari posisi pelatih.

Apa sesungguhnya yang kurang di tubuh Persib? Pemain? Oke, secara kualitas, bagus, dan merata. Tidak kalah dengan tim lain. Bekamenga, Barkawi, Eka Ramdani, dan Zaenal Arief, adalah nama- nama yang dengan kemampuan bagus. Belum pemain lainnya yang tak kalah bagusnya. Pelatih? Saat masih dipegang Iurie, tentu kita tidak menyangsikan kemampuan Iurie.

Profesional? Ini yang perlu dipertanyakan. Saat beberapa pemain mempersoalkan gaji yang telat, tentu harus menjadi bahan pemikiran serius manajemen. Ketika beberapa pemain asing bingung dengan batas akhir kontrak, tentu ini terkait dengan profesionalitas manajemen. Bagaimana dulu saat membuat kontrak? Kok bisa-bisanya pemain hengkang begitu rupa, di saat genting ketika Persib membutuhkan pemain.

Lantas bagaimana soal semangat pemain? Faktor ini yang perlu digenjot terus. Agar slogan “Persib Nu Aing” menjadi langkah kerja keras setiap pemain. Tak hanya terdengar keras dalam slogan, tapi juga membuktikan kerja keras di lapangan. Soliditas dan solidaritas, serta percaya pada teman dan pada pelatih, adalah hal-hal remeh yang menjadi santapan sehari-hari pemain Maung Bandung dan ditunjukkan saat bermain.

Benarlah ungkapan Dede Iskandar. Mantan pemain belakang Maung Bandung itu masih berharap pemain Persib ekstra semangat di dua partai sisa. Bagaimanapun, partai sisa itu menentukan langkah Persib untuk menatap Liga Super.

Terkait kegagalan pada Liga Indonesia 2007 ini, tentu kata maaf dari pengurus tak cukup memupus kesedihan, kegundahan, kekecewaan, dan ke-seubeul-an, semua pendukung setia Persib. Walau begitu, fanatisme pendukung Persib tak akan pernah luntur. Di Liga manapun Persib bermain, pasti terus didukung. Liga Indonesia, Liga Super, Divisi Utama, atau Divisi I sekalipun, Persib tetap memiliki Bobotoh.

Kini saatnya, Persib memikirkan liga-liga di masa depan. Persiapan lebih matang biasanya memberi hasil yang lebih baik. Mulai dari sekarang, Persib sudah harus menyiapkan pasukan untuk liga 2008. Saatnya pula, Persib melirik kemampuan pemain-pemain muda yang main di klub. Perbaikan sistem pembibitan pemain merupakan syarat utama untuk mendapatkan pemain jempolan. Sehingga saat berlaga di Liga, tidak terlalu mengandalkan pemain asing, apalagi yang suka jalir jangji.

Mudah-mudahan, Persib mendatang adalah Persib yang profesional di segala lini. Manajemen, pemain, pelatih, dan lain-lain yang mendukung kesolidan Maung Bandung, tanpa menghamburkan uang rakyat. (*)

NB: Dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Senin 24 Desember 2007

Pertarungan Elite di Detik Terakhir

December 29, 2007

KONSTELASI politik Jawa Barat mendekati berakhirnya masa pengembalian formulir pendaftaran calon gubernur (cawagub) dan calon wakil gubernur (cawagub) semakin memanas. Namun bisa dikatakan, belum ada pasangan yang betul-betul fiks, mantap, dan kokoh, bakal benar-benar melaju sebagai cagub dan cawagub.

Satu contoh saja, pasangan Agum Gumelar dan Rudi Harsa Tanaya yang diusung PDIP. Surat keputusan DPP PDIP memang mengamanatkan para kader partai banteng ini untuk memenangkan Agum-Rudi. Namun PPP pun mengklaim Agum bakal berpasangan dengan Nu’man Abdul Hakim.

Sampai kini, klaim siapa yang paling sahih, masih belum terjawab. Ini disebabkan sikap diam Agum Gumelar yang belum secara terbuka menyatakan kesediaannya diusung PDIP ataukah maju bersama Nu’man.

Partai Golkar sudah jelas mengusung Gubernur incumbent, Danny Setiawan, sebagai calon gubernur. Namun siapa yang bakal mendampinginya, masih belum diputuskan. Tinggal dua nama yang masuk dalam hitungan Partai Golkar untuk menjadi cawagub, yaitu Iwan R Sulandjana, mantan Pangdam III/Siliwangi, dan Ahmad Heryawan, cawagub dari PKS Jabar.

Golkar tengah menghitung secara matang calon pasangan Danny ini. Karena hanya dua nama saja yang tersisa, pilihannya gampang- gampang susah. Pilih nama yang familiar di masyarakat Jabar dan berpengalaman bekerjasama dengan incumbent tapi tidak memiliki basis massa partai, atau pilih nama yang tidak begitu familiar, tapi memiliki basis massa partai yang sangat solid. Di sisi lain, Partai Golkar pun harus mempertimbangkan pasangan calon lain, seandainya Agum-Nu’man benar-benar jadi kenyataan. Jadi tinggal seperti apa perhitungan elite Partai Golkar untuk memutuskan pasangan yang diharapkan menang dalam Pilgub.

Sementara partai-partai lain pun masih memiliki peluang untuk mengajukan calonnya. Jika tidak jadi berpasangan dengan Agum, jelas Nu’man harus maju dengan dukungan partai-partai lain. Belum lagi PKS, jika cawagubnya tidak diminati Partai Golkar. Tentu bakal ada pemetaan politik terbaru untuk memunculkan calon alternatif.

Bisa dipastikan, siapa yang bakal maju menjad cagub-cawagub baru bisa diketahui secara pasti saat detik-detik terakhir penutupan pengembalian formulir pendaftaran, Jumat 14 Desember 2007. Pertarungan elite akan semakin keras, dan kian menegangkan.

Dalam konteks proses awal Pilgub seperti saat ini, benar belaka bahwa politik adalah kepentingan dan cara untuk mencari kekuasaan. Sementara masyarakat awam, rakyat kebanyakan, hanya bisa menonton saja pertarungan elite, nun di atas sana itu. Siapa yang bakal jadi cagub dan cawagub untuk mereka pilih saat pencoblosan 13 April 2008, mereka lebih tidak tahu lagi. (*)

NB: Dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Senin 10 Desember 2007

Sekarang Musim Hujan atau Kemarau?

December 29, 2007

JIKA ada orang bertanya, sekarang ini sedang musim hujan atau musim kemarau, pasti akan bingung menjawabnya. Dibilang musim hujan, tidak juga, karena panas begitu menyengat dan bisa berhari-hari, bahkan berminggu-minggu lamanya. Dibilang musim kemarau, juga tidak. Karena sewaktu-waktu, hujan bisa turun, pagi atau sore hari.
Padahal, dulu sangat mudah membaca musim dan menjadi hafalan anak-anak SD. Musim kemarau terjadi pada April-Oktober, sementara musim hujan Oktober-April. Mudah bukan?

Masa transisi, begitu kalangan pengamat cuaca serta Badan Meteorologi dan Geofisika menyebut keadaan cuaca saat ini. Sebutan transisi itu sudah dikemukakan sejak dua atau tiga bulan lalu. Dan hingga kini ternyata masih masa transisi, belum benar-benar masuk ke musim hujan.

Pergeseran atau perubahan cuaca sudah terjadi sejak beberapa tahun terakhir ini. Akibatnya pun mulai terasa. Misalnya saja, petani, terutama yang tergantung pada hujan, kesulitan menentukan awal masa tanam. Ini berarti produksi padi terlambat. Atau bahkan produksi padi menurun, karena petani memaksakan menanam padi bukan saat masa tanam. Lalu terus merembet ke hilir hingga masalah kekurangan pangan.

Hebatnya lagi, musim transisi atau pancaroba kali ini diwarnai hembusan kencang angin puting beliung di sejumlah daerah. Angin berputar itu tak hanya menyambangi daerah dataran rendah, tapi juga dataran tinggi seperti Bandung. Angin berkecepatan 73 km per jam atau setara dengan 14 knot melaju kencang menumbangkan pohon-pohon.

Tak cukup dengan itu, air laut pasang pun menggenangi sebagian Jakarta. Hal yang tak pernah terjadi sebelumnya. Begitu pula, hujan sehari menyebabkan banding di daerah Kertasari, Kabupaten Bandung, dan mengirim luapan lumpur ke rumah-rumah warga. Musim transisi ini menjadi jeda waktu yang mengerikan, karena bencana seolah mengancam dari berbagai arah.

Adakah cuaca tak menentu saat ini terkait dengan perubahan iklim (Climate Change) atau Global Warming (Pemanasan Global)? Sangat mungkin itu yang terjadi. Perubahan iklim menyebabkan cuaca tak mudah diprediksi. Badai dan angin topan bermunculan di atas khatulistiwa dan memengaruhi musim secara keseluruhan.

Meningkatnya suhu bumi karena efek rumah kaca menjadi salah satu akibat yang harus ditanggung umat manusia. Bisa jadi, cuaca panas dan menyengat di Kota Bandung hari-hari ini, bagian dari pemanasan global itu. Dan tentu, penyebab lokal pun turut menyumbang, seperti penebangan hutan, pembangunan pemukiman yang menggerus tanah konservasi dan sebagainya.

Kita berharap penyelenggaraan Konferensi ke-13 PBB tentang Perubahan Iklim di Bali awal Desember mendatang menghasilkan komitmen kuat negara-negara di dunia untuk memperbaiki kondisi bumi. Kerusakan alam ini sudah begitu parah. Slogan Save Our Earth, sudah lama didengungkan, tapi tak semua pihak hirau.

Luas hutan yang hilang makin tak terkendali, pencemaran udara kian mengkhawatirkan. Eksplorasi alam tak terbarukan terus digenjot. Selama setahun, masyarakat Indonesia hanya menikmati udara bersih dua bulan. Belum lagi ketersediaan air bersih, sebagai tulang punggung kehidupan, yang kian berkurang. Inikah salah satu tanda akan berakhirnya dunia? Wallahu ‘alam bishawab. (*)
NB: Dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Jumat 30 November 2007.

Bersama “Membina” Geng Motor

November 3, 2007

AKTIVITAS geng motor di Kota Kembang ini sudah
mencapai titik kulminasi. Kebrutalan mereka membuat
warga merasa tak aman bepergian di malam hari. Tak
hanya warga Bandung, pelancong dari luar kota pun akan
berpikir dua kali untuk keliling menikmati suasana
malam ibukota Jabar ini. Khawatir bertemu dengan
kelompok bermotor yang sangar, bersenjata tajam, dan
tak kenal tata krama. Siapa saja yang menghalangi
jalan mereka, pasti disikat. Korban terakhir para
ghost rider ini adalah Putu Ogik, wisatawan yang
hendak menghabiskan liburan di Bandung.
Fenomena kebrutalan geng motor ini bukanlah hal baru.
Aksi-aksi mereka sudah lama terdengar gaungnya. Sebut
saja nama XTC (Exalt to Coltus), Brigez (Brigade
Seven), GBR (Grab on Road), atau legenda geng motor
Bandung, Moonraker.

Semula geng motor ini hanyalah kumpulan anak muda yang
ingin kongkow-kongkow bareng pakai motor lalu keliling
kota. Dari lima, bertambah 10 orang, lalu bertambah
50, hingga ratusan anggota, bahkan kabarnya XTC
memiliki anggota hingga 1.000 orang. Masalah muncul
ketika kebersamaan kelompok ini berubah negatif,
seiring munculnya geng sejenis. Dari hanya persaingan
antargeng motor, berubah jadi tawuran. Tawuran pun
meluas tidak hanya dengan sesama geng motor, tapi
kelompok masyarakat lainnya.

Tindakan mereka semakin kriminal ketika di tubuh geng itu bersemayam pula para pengguna obat dan narkotika. Saat uang menipis, merampok menjadi satu-satunya pilihan yang mereka lakukan. Jadilah saat ini cap untuk geng motor adalah kriminalis.

Aparat kepolisian bukannya diam dengan aksi kriminal
geng motor. Setiap malam Minggu, walau tidak rutin,
polisi menggelar razia lalulintas. Namun yang kerap
terjaring bukanlah anggota geng motor, tapi klub-klub
motor yang memang marak di Bandung dan warga biasa
yang lupa membawa dan atau tidak memiliki SIM.

Beberapa kali, polisi menangkap anggota geng motor.
Sebagian kasusnya masuk ke pengadilan. Tapi tak
sedikit pula, anggota geng ni bisa lenggang kangkung
keluar dari tahanan, karena ada penangguhan tahanan
atau ada orang ökuatÆ yang meminta agar dibebaskan,
untuk kemudian beraksi kembali di jalanan.

Karena hal ini sudah menjadi masalah sosial di Bandung, kita patut mendukung Instruksi Kapolda Jabar untuk menghentikan aksi geng motor ini. Jika kata memberantas terlalu kasar, karena bagaimanapun sulit menghentikan sebuah life style perkotaan, maka yang harus dilakukan adalah pembinaan secara intensif dan komprehensif.

Pembinaan harus dimulai dari tempat mereka berkumpul, lalu ke sekolah-sekolah, karena anggota geng motor kebanyakan anak usia sekolah, kalau bukan pengangguran.
Masyarakat dan media massa pun bisa dilibatkan dalam
proses pembinaan ini. Para orangtua diminta pengertiannya untuk memperketat penggunaan sepeda motor oleh anak-anak mereka. Media pun bisa berkampanye antigeng motor, salah satunya dengan menampilkan sosok-sosok anggota geng motor yang telah bertobat.

Kalau ternyata masih tetap terjadi aksi kriminal yang dilakukan geng motor, Kapolda tak perlu sungkan untuk
menurunkan Densus 88. Teroris saja bisa dilberangus, apalagi hanya sekelas geng motor. (*)

Tribun Jabar, Rabu 24 Oktober 2007

Menguji Hasil Diklat Sebulan

October 16, 2007

RAMADAN telah berlalu. Kaum Muslimin merayakan kemenangannya mengekang hawa nafsu dengan Idul Fitri. Orang-orang kota pun mudik atau pulang ke udik, untuk merayakan kemenangan itu bersama sanak-keluarga di kampung kelahiran.

Ketika Bandung ditinggal pergi para perantau lokal dan interlokal, suasana sangat lengang. Jalan raya serasa milik seorang. Tapi itu pun tak lama. Giliran pribumi asli Bandung dan sekitarnya yang menyerbu masuk ke pusat kota. Tempat-tempat wisata dan rekreasi jadi tujuan utama.

Kemacetan pun kembali terjadi. Gerundelan, kalau tidak dibilang caci maki, pun kadang kembali terlontar dari mulut yang sebulan sebelumnya terjaga benar. Padahal, puasa masih terasa di tenggorokan. Tapi baru sehari lepas, serasa hidup merdeka. Merdeka makan enak, merdeka makan banyak, dan merdeka lain-lain.

Sesungguhnya, hari-hari mendatang ini merupakan hari yang berat. Karena hasil pendidikan dan latihan (diklat) sebulan penuh bakal diujikan. Sejauh mana kesuksesan seseorang berpuasa, bisa terlihat di hari-hari selepas Ramadan ini.

Jangan sampai hawa nafsu, sebagai elemen yang paling ditahan saat berpuasa, merajalela kembali. Siapapun mereka yang lulus diklat Ramadan, tak peduli pejabat hingga rakyat jelata, seharusnya bisa menunjukkan perilaku yang baik atau akhlakul karimah.

Kebiasaan-kebiasaan buruk pra-Ramadan harus pupus. Mencuri uang rakyat, mencuri hak rakyat, menginjak kaum duafa, sudah bukan lagi perilaku pejabat. Yang terbetik adalah kasih sayang dan berlaku adil terhadap sesama. Karena itulah nilai-nilai yang diajarkan Ramadan kepada kita semua.

Ketika kembali ke tempat pekerjaan masing-masing, ingatlah ajaran Ramadan yang lalu. Saat mata ini hendak bergerilya memandang yang bukan hak, palingkan ke arah yang hak. Ketika telinga ini hendak mendengar gosip murahan, tulikan pendengaran kita. Saat tangan ini hendak berlaku tidak adil, mengambil hak orang lain, ingatlah akan “kepedihan yang luar biasa” di akhirat kelak. Ketika mulut ini hendak membicarakan orang lain dan berghibah, menyombongkan diri, ingatlah bahwa itu sama saja dengan memakan bangkai saudara sendiri.

Seandainya nilai Ramadan bisa diterapkan seutuhnya dalam kehidupan selama sebelas bulan mendatang, sungguh indah hidup ini. Kesabaran menjadi makanan utama, keikhlasan menjadi sarapan pagi, kesalehan menjadi langkah sehari-hari, dan masih banyak lagi. Ah, sungguhkah kita termasuk orang-orang yang mencapai maqam fitrah? Semoga. (*)

Tribun Jabar, Selasa 16 Oktober 2007

Pancasila di Tengah Pertarungan Ideologi

October 3, 2007

TAHUN-tahun sebelum Reformasi pecah, setiap malam 30 September, masyarakat Indonesia selalu disuguhi tontonan wajib film Pemberontakan G30S/PKI. Film yang merupakan tafsir Orde Baru terhadap gerakan PKI itu menjadi semacam “textbook” yang kebenarannya harus diamini seluruh rakyat. Tak heran, jika isi otak para pelajar masa itu tentang peristiwa akhir September itu seragam, tak beda sedikitpun.

Begitupun keesokan harinya, tanggal 1 Oktober, selalu digelar upacara, mulai tingkat nasional hingga tingkat kecamatan, yang disebut sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Di tingkat nasional, biasanya upacara itu digelar di pelataran Monumen Pahlawan Revolusi di Lubang Buaya Jakarta.

Sungguh suatu upaya sistematis untuk menanamkan doktrin rezim Orde Baru kepada rakyatnya. Beda tafsir adalah haram, dan jika ada yang berani bersuara sumbang, tudingan subversif jawabannya.

Namun semenjak gelombang Reformasi menerpa negeri ini, pemutaran film dan kegiatan upacara bukan lagi kewajiban. Malah, bermunculan tafsir-tafsir baru atas fakta sejarah kejadian September 1965 itu.

Siapapun sepertinya berhak mengeluarkan bukti dan tafsir baru atas seluruh sejarah yang terjadi di masa Orde Baru, khususnya menyangkut G30S/PKI.

Hal itu sesungguhnya sah-sah saja. Bahkan sangat menguntungkan bagi para sejarawan di negeri ini. Karena, sumber-sumber yang selama Orde Baru bungkam, bisa muncul. Tinggal bagaimana para sejarawan memverifikasi kebenaran fakta itu untuk dijadikan bahan ajar pelajaran sejaran di sekolah-sekolah.

Di sisi lain, sembilan tahun pascareformasi membuat gamang fondasi negeri ini. Pemikiran-pemikiran baru, yang dulu diharamkan, dengan mudah menerobos di sela- sela kehidupan rakyat Indonesia. Nilai-nilai kemasyarakatan pun semakin aus, serba permisif, dan cair.

Dulu, butir-butir Pancasila yang harus dihapal siswa sekolah, secara tidak langsung mengajarkan budi pekerti dan rasa setia kawan serta gotong royong yang tinggi. Namun globalisasi secara tidak langsung menggerus nilai dan norma kehidupan masyarakat Indonesia. Pancasila seolah dilupakan. Butir-butir Pancasila tak lagi ampuh untuk mendidik budi pekerti seorang siswa sekolah.

Tak heran, belakangan ini, muncul kekhawatiran dari sejumlah kalangan, khususnya kaum nasionalis, tentang dasar negara Indonesia, Pancasila. Serbuan dahsyat ideologi barat mengaburkan nilai budaya dan nasionalisme bangsa ini.

Hari ini, 1 Oktober, hari yang biasa diperingati rezim Orde Baru sebagai Hari Kesaktian Pancasila dan belum pernah dicabut pemerintah pasca-Soeharto. Dalam konteks yang lain, Pancasila memang sakti, walau mulai dilupakan, tapi masih kokoh menjadi fondasi bangsa ini.

Sejatinya, Pancasila adalah rumah ideologi yang ideal di Indonesia. Di tengah pertarungan ideologi Barat dan Timur, Pancasila mampu menengahi dan menjembatani seluruh ideologi, pemikiran, dan kepentingan. Setidaknya untuk Indonesia saat ini, Pancasila sudah teruji sebagai sebuah dasar negara. Dan sepatutnya, kita berterima kasih kepada pencetus, pencipta Pancasila ini, bukan melupakannya. (*)

Tribun Jabar, Senin 1 Oktober 2007

Membaca Peta Politik Jawa Barat

September 15, 2007

SEKITAR tujuh bulan lagi, rakyat Jawa Barat akan larut dalam ingar-bingar Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jabar. Namun saat ini suasana politik Jabar sudah menghangat seiring geliat dan manuver sejumlah partai politik untuk memunculkan calon-calon gubernur dan wakil gubernur unggulan.

DPW Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jabar memulai manuver dengan menggandeng PKPB. Koalisi ini untuk bertujuan untuk memenuhi persyaratan minimal 15 persen perolehan suara. Dengan koalisi ini, PKS bisa memunculkan calon gubernur dan wakil gubernur secara mandiri. Di kalangan internal, PKS tengah menggodok lima nama untuk diajukan sebagai calon.

Di lain pihak, DPW Partai Amanat Nasional (PAN) Jabar dan DPD Partai Golkar membuka pendaftaran untuk menjaring calon gubernur dan wakil gubernur. Pendaftaran ini untuk menunjukkan bahwa parpol transparan menjaring pemimpin.

PAN memiliki sejumlah nama untuk diajukan sebagai jagoan. Ada Ahmad Adib Zain, Dede Yusuf, Danny Setiawan, dan Irianto “Yance’ Syafiudin. Sementara internal Golkar sejak awal sudah mengusung Danny Setiawan. Sementara untuk pasangannya, sejumlah pihak sudah menyiapkan Uu Rukmana, Ketua DPP Partai Golkar Jabar. Juga nama Yance kembali mencuat untuk dipasangkan dengan Danny.

Sedangkan PDIP, sejak awal juga konsisten mengusung Rudi Harsa Tanaya sebagai cagub atau cawagub. Namun belum terang benar, plot mana yang akan diambil Rudi. Apakah tampil sebagai calon gubernur atau hanya sebagai calon wakil gubernur.

Ini tentu terkait dengan “koalisi” di tingkat nasional. Partai Golkar dan PDIP sudah ikrar untuk jalan bersama menghadapi Pilkada di daerah-daerah. Hal itu yang ditunjukkan saat Pilkada DKI Jakarta dan Pilkada Kota Cimahi. Golkar dan PDIP bergabung bersama aliansi parpol kecil dan menang.

Langkah itu sudah diambil PDIP dengan menggandeng PKB dan 13 partai kecil untuk berkoalisi. Jika dengan koalisi ini PDIP berani memunculkan paket calon gubernur dan wagub sendiri, tentu medan pertempuran semakin ramai dan mengubah positioning. Karena hal itu berarti Rudi tinggal menunggu siapa yang akan dipasangkan dengannya.

Namun menilik apa yang dilakukan PBR, yang notabene anggota aliansi partai kecil dan berkoalisi dengan PDIP, yang justru menggandengan Danny Setiawan dan Rudi Harsa sebagai pasangan ideal, menunjukkan minat Rudi untuk dipasangkan dengan Danny dan menjaga eksistensi koalisi nasional masih kuat.

Sementara partai yang belum memutuskan untuk mendukung siapa, seperti PPP dan Partai Demokrat, walau tidak kentara, tentu sudah bergerak untuk mencari posisi yang menguntungkan.

Dari semua nama calon yang muncul, nama Danny Setiawan, tetap yang menjadi incaran nomor satu. Posisinya sebagai Gubernur Incumbent sangat strategis. Kalkulasinya, jika ingin memenangkan Pilgub, gandeng saja gubernur incumbent. Karena Danny memiliki akar jaringan yang kuat di masyarakat.

Jika Partai Golkar dan PDIP memunculkan calon dari kalangan internal sendiri, bakal terjadi perebutan suara yang sangat ketat. Hal itu berarti pula, pasangan cagub dan cawagub Jabar bisa lebih dari tiga. Satu dari Partai Golkar, satu dari koaliasi PDIP, PKB, dan aliansi parpol kecil, satu dari PPP dan Partai Demokrat atau PAN, dan satu lagi koalisi PKS dan PKPB.

Peta politik ini pasti terus bergerak seiring kian dekatnya hajatan besar demokrasi rakyat Jabar. Kita tinggal menunggu saja, berapa banyak partai yang berkoalisi dan siapa saja yang bakal manggung di Pilgub mendatang. (*)

Tribun, Jumat 14 September 2007

Ketika Pohon Tak Lagi Jadi Pelindung

September 1, 2007

BANDUNG di akhir abad 19 dan awal abad 20. Adalah surga bagi para pelancong.  Alamnya yang sejuk, tata ruang kota yang merenah dengan arsitektur bangunan yang memikat, dan noni yang cantik-cantik, jadi alasan utama para pelancong berkunjung ke Bandung. Saking terkenalnya, orang pun menyetarakan Bandung dengan Paris di Eropa, sehingga muncullah sebutan Parijs van Java.

Keunggulan yang dimiliki Bandung adalah tersebarnya taman-taman kota dan pohon-pohon pelindung di sepanjang jalan. Itulah yang membuat Bandung menjadi sejuk dan segar. Ketika Daendels membuat Jalan Raya Pos dan melewati tatar Bandung, ia memerintahkan untuk menanam pohon Asam, Beringin, johar, dan kenari sebagai peneduh jalan. Pohon Ki Hujan, Kenari, Mahoni, Ganitri, Flamboyan, Cemara Gunung, dan Karet Munding, pun menghiasi jalan-jalan di Kota Bandung.

Hingga kini, masih banyak pohon yang usianya lebih dari seratus tahun, seperti pohon karet di halaman Kantor Pusat PT KA Jalan Perintis Kemerdekaan atau pohon Ki Hujan di pelataran Balai Kota.

Kepedulian warga terhadap pohon-pohon peneduh yang menjadi ciri Kota Bandung ini merupakan modal utama menjaga Bandung tetap sejuk. Sayangnya, pembangunan dewasa ini kurangmemperhitungkan persoalan lingkungan. Tengok saja ketika pelebaran jalan di Terusan Pasteur. Puluhan pohon Palem Raja yang usianya puluhan tahun menjadi korban. Dan kini sepanjang jalan menuju ke Jembatan Paspati itu kering kerontang, tak menunjukkan Bandung yang sejuk. Lebih tragis lagi, pepohonan di Kota Bandung tak lagi ramah dan jadi pelindung bagi warganya, Kasus pohon tumbang sering terjadi. Saat angin ribut menerpa, beberapa pohon, dan juga billboard iklan, terhumbalang. Sebagian menimpa rumah dan kendaraan. Bahkan merenggut nyawa.

Tahun ini saja, ada tiga kasus pohon tumbang yang menelan korban jiwa. Pertama di Jalan Diponegoro, kedua di Jalan Aceh, dan terakhir di Jalan Tamansari.

Banyak hal yang menyebabkan pohon tumbang, diantaranya faktor dari dalam pohon itu sendiri, seperti akar keropos, dahan rapuh, dan pohon berusia tua. Bisa juga faktor dari
luar, seperti serangan angin ribut atau sengaja diracun agar pohon mati.

Tentu ini harus menjadi perhatian bersama. Karena masih ada sekitar 150-200 pohon yang kondisinya mengkhawatirkan dan terancam tumbang. Jika tidak segera ditangani, ini bisa menjadi peluru maut yang menyebabkan keselamatan dan keamanan warga terancam. Sangat mungkin, orang akan takut melewati Jalan Tamansari, Juanda, Cipaganti, karena di sanalah paling banyak terdapat pohon-pohon besar berusia tua.

Saatnya kita berupaya keras menjaga kelestarian pohon-pohon tua. Karena pohon-pohon itu sangat menolong kehidupan warganya. Di tengah cuaca terik dan iklim yang tak menentu, pohon-pohon itu masih bisa melindungi. Udara segar yang setiap pagi kita hirup, bisa jadi berasal dari pohon-pohon Ki Hujan, Mahoni, dan Tanjung, di Jalan Cipaganti, Dago, dan Tamansari. (*)

Tribun Jabar, September 2007