Sekarang Musim Hujan atau Kemarau?

December 29, 2007 by Machmud Mubarok

JIKA ada orang bertanya, sekarang ini sedang musim hujan atau musim kemarau, pasti akan bingung menjawabnya. Dibilang musim hujan, tidak juga, karena panas begitu menyengat dan bisa berhari-hari, bahkan berminggu-minggu lamanya. Dibilang musim kemarau, juga tidak. Karena sewaktu-waktu, hujan bisa turun, pagi atau sore hari.
Padahal, dulu sangat mudah membaca musim dan menjadi hafalan anak-anak SD. Musim kemarau terjadi pada April-Oktober, sementara musim hujan Oktober-April. Mudah bukan?

Masa transisi, begitu kalangan pengamat cuaca serta Badan Meteorologi dan Geofisika menyebut keadaan cuaca saat ini. Sebutan transisi itu sudah dikemukakan sejak dua atau tiga bulan lalu. Dan hingga kini ternyata masih masa transisi, belum benar-benar masuk ke musim hujan.

Pergeseran atau perubahan cuaca sudah terjadi sejak beberapa tahun terakhir ini. Akibatnya pun mulai terasa. Misalnya saja, petani, terutama yang tergantung pada hujan, kesulitan menentukan awal masa tanam. Ini berarti produksi padi terlambat. Atau bahkan produksi padi menurun, karena petani memaksakan menanam padi bukan saat masa tanam. Lalu terus merembet ke hilir hingga masalah kekurangan pangan.

Hebatnya lagi, musim transisi atau pancaroba kali ini diwarnai hembusan kencang angin puting beliung di sejumlah daerah. Angin berputar itu tak hanya menyambangi daerah dataran rendah, tapi juga dataran tinggi seperti Bandung. Angin berkecepatan 73 km per jam atau setara dengan 14 knot melaju kencang menumbangkan pohon-pohon.

Tak cukup dengan itu, air laut pasang pun menggenangi sebagian Jakarta. Hal yang tak pernah terjadi sebelumnya. Begitu pula, hujan sehari menyebabkan banding di daerah Kertasari, Kabupaten Bandung, dan mengirim luapan lumpur ke rumah-rumah warga. Musim transisi ini menjadi jeda waktu yang mengerikan, karena bencana seolah mengancam dari berbagai arah.

Adakah cuaca tak menentu saat ini terkait dengan perubahan iklim (Climate Change) atau Global Warming (Pemanasan Global)? Sangat mungkin itu yang terjadi. Perubahan iklim menyebabkan cuaca tak mudah diprediksi. Badai dan angin topan bermunculan di atas khatulistiwa dan memengaruhi musim secara keseluruhan.

Meningkatnya suhu bumi karena efek rumah kaca menjadi salah satu akibat yang harus ditanggung umat manusia. Bisa jadi, cuaca panas dan menyengat di Kota Bandung hari-hari ini, bagian dari pemanasan global itu. Dan tentu, penyebab lokal pun turut menyumbang, seperti penebangan hutan, pembangunan pemukiman yang menggerus tanah konservasi dan sebagainya.

Kita berharap penyelenggaraan Konferensi ke-13 PBB tentang Perubahan Iklim di Bali awal Desember mendatang menghasilkan komitmen kuat negara-negara di dunia untuk memperbaiki kondisi bumi. Kerusakan alam ini sudah begitu parah. Slogan Save Our Earth, sudah lama didengungkan, tapi tak semua pihak hirau.

Luas hutan yang hilang makin tak terkendali, pencemaran udara kian mengkhawatirkan. Eksplorasi alam tak terbarukan terus digenjot. Selama setahun, masyarakat Indonesia hanya menikmati udara bersih dua bulan. Belum lagi ketersediaan air bersih, sebagai tulang punggung kehidupan, yang kian berkurang. Inikah salah satu tanda akan berakhirnya dunia? Wallahu ‘alam bishawab. (*)
NB: Dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Jumat 30 November 2007.

“SHARE YOUR WORD TO THE WORLD”

November 16, 2007 by Machmud Mubarok

“SHARE YOUR WORD TO THE WORLD”
GAGASMEDIA LOVEFOOL WRITING CONTEST

Cinta kadang bikin kita lupa diri. Perasaan kita jadi serba berbunga-bunga, mikirin dia mulu, bawaannya pengen ketemu! Malah gilanya, kadang kita suka ngelakuin hal-hal geblek yang nggak mungkin dilakuin selama ini.

Ngerasa punya pengalaman seputar hal-hal bego kayak gini? Kalo punya, lo wajib-kudu-harus banget ikutan GAGASMEDIA LOVEFOOL WRITING CONTEST. Syaratnya:
1. Cerita adalah kisah nyata, dengan tema: “HAL-HAL
KONYOL YANG GUE LAKUIN DEMI CINTA”
2. Panjang naskah 7500 – 10.000 karakter
3. Naskah diketik dalam ukuran A4, spasi 1
4. Kirimin ke e-mail redaksi@gagasmedia. net
mailto:redaksi@gagasmedia. net> atau
redaksigagasmedia@ gmail.com
mailto:redaksigagasmedia@ gmail.com dengan subject: LOVEFOOL WRITING CONTEST (naskahnya di-attach ya)
5. Naskah diterima selambat-lambatnya tanggal 22  Desember 2007
6. Sertakan nama lengkap, nomor handphone dan telepon rumah, e-mail.
7. Naskah yang masuk menjadi milik panitia.
8. Keputusan juri nggak bisa diganggu gugat.

Yang menang bakal diumumkan pada tanggal 7 Januari
2008. 10 Pemenang yang beruntung masing-masing akan
mendapatkan:

  •   Uang sebesar Rp 300.000
  •   Paket buku senilai Rp 200.000
  •   Beasiswa sekolah menulis senilai Rp 2.000.000
    selama tiga bulan (waktu sekolah akan ditetapkan
    kemudian)

Dan pastinya… sepuluh karya yang terpilih itu akan
diterbitkan GagasMedia pada bulan Februari 2008!
Hmmm… tunggu apa lagi? Makanya, buruan kirim!

Beasiswa Jefferson buat Jurnalis

November 3, 2007 by Machmud Mubarok

Scholarship and Training Division
The Indonesian International Education Foundation (IIEF)

Dear Friends,

We are pleased to announce that the East-West Center is accepting applications for the Spring 2008 Jefferson Fellowships for Journalists. Below is a summary of the program. The application deadline is Wednesday, December 5, 2007. This is an exciting program focused on what we are calling “The Other China.”

Spring 2008 Jefferson Fellowships for Journalists
Dates: May 3 -25, 2008
Theme: “The Other China “

Travel Destinations: All Fellows will travel together to Honolulu , Hawaii , USA ; and Beijing , Chongqing , and Chengdu in China . Program will include overland travel through smaller cities and rural areas between Chongqing and Chengdu .

Who Can Apply: Working print, broadcast, and on-line journalists in the United States , Asia and the Pacific Islands . At least five years of experience preferred.

Applications and More Information: See www.eastwestcenter. org/jefferson
Application Deadline: Wednesday, December 5, 2007.

Funding: Airfare, lodging, per diem and most other program expenses are provided through a grant from The Freeman Foundation.

Contacts: Send applications and questions by email to jefferson@eastwestc enter.org or fax at +1808 944-7600. For phone inquiries, please contact Ann Hartman, Jefferson Fellowships Coordinator at +1808 944-7619.

You can also contact:
The Indonesian International Education Foundation (IIEF)
Menara Imperium 28th Fl. Suite B
Jl. H. R. Rasuna Said, Jakarta 12980
Phone: (021) 8317330
Fax: (021) 8317331

Bersama “Membina” Geng Motor

November 3, 2007 by Machmud Mubarok

AKTIVITAS geng motor di Kota Kembang ini sudah
mencapai titik kulminasi. Kebrutalan mereka membuat
warga merasa tak aman bepergian di malam hari. Tak
hanya warga Bandung, pelancong dari luar kota pun akan
berpikir dua kali untuk keliling menikmati suasana
malam ibukota Jabar ini. Khawatir bertemu dengan
kelompok bermotor yang sangar, bersenjata tajam, dan
tak kenal tata krama. Siapa saja yang menghalangi
jalan mereka, pasti disikat. Korban terakhir para
ghost rider ini adalah Putu Ogik, wisatawan yang
hendak menghabiskan liburan di Bandung.
Fenomena kebrutalan geng motor ini bukanlah hal baru.
Aksi-aksi mereka sudah lama terdengar gaungnya. Sebut
saja nama XTC (Exalt to Coltus), Brigez (Brigade
Seven), GBR (Grab on Road), atau legenda geng motor
Bandung, Moonraker.

Semula geng motor ini hanyalah kumpulan anak muda yang
ingin kongkow-kongkow bareng pakai motor lalu keliling
kota. Dari lima, bertambah 10 orang, lalu bertambah
50, hingga ratusan anggota, bahkan kabarnya XTC
memiliki anggota hingga 1.000 orang. Masalah muncul
ketika kebersamaan kelompok ini berubah negatif,
seiring munculnya geng sejenis. Dari hanya persaingan
antargeng motor, berubah jadi tawuran. Tawuran pun
meluas tidak hanya dengan sesama geng motor, tapi
kelompok masyarakat lainnya.

Tindakan mereka semakin kriminal ketika di tubuh geng itu bersemayam pula para pengguna obat dan narkotika. Saat uang menipis, merampok menjadi satu-satunya pilihan yang mereka lakukan. Jadilah saat ini cap untuk geng motor adalah kriminalis.

Aparat kepolisian bukannya diam dengan aksi kriminal
geng motor. Setiap malam Minggu, walau tidak rutin,
polisi menggelar razia lalulintas. Namun yang kerap
terjaring bukanlah anggota geng motor, tapi klub-klub
motor yang memang marak di Bandung dan warga biasa
yang lupa membawa dan atau tidak memiliki SIM.

Beberapa kali, polisi menangkap anggota geng motor.
Sebagian kasusnya masuk ke pengadilan. Tapi tak
sedikit pula, anggota geng ni bisa lenggang kangkung
keluar dari tahanan, karena ada penangguhan tahanan
atau ada orang ökuatÆ yang meminta agar dibebaskan,
untuk kemudian beraksi kembali di jalanan.

Karena hal ini sudah menjadi masalah sosial di Bandung, kita patut mendukung Instruksi Kapolda Jabar untuk menghentikan aksi geng motor ini. Jika kata memberantas terlalu kasar, karena bagaimanapun sulit menghentikan sebuah life style perkotaan, maka yang harus dilakukan adalah pembinaan secara intensif dan komprehensif.

Pembinaan harus dimulai dari tempat mereka berkumpul, lalu ke sekolah-sekolah, karena anggota geng motor kebanyakan anak usia sekolah, kalau bukan pengangguran.
Masyarakat dan media massa pun bisa dilibatkan dalam
proses pembinaan ini. Para orangtua diminta pengertiannya untuk memperketat penggunaan sepeda motor oleh anak-anak mereka. Media pun bisa berkampanye antigeng motor, salah satunya dengan menampilkan sosok-sosok anggota geng motor yang telah bertobat.

Kalau ternyata masih tetap terjadi aksi kriminal yang dilakukan geng motor, Kapolda tak perlu sungkan untuk
menurunkan Densus 88. Teroris saja bisa dilberangus, apalagi hanya sekelas geng motor. (*)

Tribun Jabar, Rabu 24 Oktober 2007

ASIA Fellows Awards

November 3, 2007 by Machmud Mubarok

PROGRAM ASIA Fellows Awards menawarkan kesempatan kepada cendekiawan muda dan madya serta para pakar, untuk belajar dan mengadakan penelitian di salah satu negara Asia yang berpartisipasi dalam program ini, untuk jangka waktu antara 6 sampai 9 bulan.

Program ASIA Fellows Awards didanai oleh The Ford Foudation dan dikelola oleh The Asian Scholarship Foundation (ASF) yang berlokasi di Bangkok, Thailand, dengan bantuan beberapa rekanannya di Beijing, Jakarta, Hanoi, Manila dan New Delhi. ASF bertujuan untuk meningkatkan kesadaran menyeluruh akan sumber daya para cendekiawan di Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Republik Rakyat Cina. ASF diharapkan akan membangun jaringan kerja multilateral para pakar Asia di Asia; yang akan membantu pembangunan Ilmu Asia dalam komunitas bidang studi yang telah ada.

Program ini tidak diperkenankan dipergunakan untuk penyelesaian tesis/disertasi; dan tidak dapat dimanfaatkan secara bersamaan dengan beasiswa lain untuk tujuan yang sama.

Bidang penelitian yang ditawarkan:
seni, budaya, humaniora, ilmu-ilmu sosial dan ilmu lainnya yang relevan

Lokasi penelitian:
Bangladesh, Bhutan, Brunei Darussalam, Kamboja, RRC, India, Laos, Republik Maladewa, Myanmar, Nepal, Pakistan, Sri Lanka, Thailand atau Vietnam.

Tidak diperkenankan memilih negara sendiri ( INDONESIA ) sebagai negara tujuan

Tunjangan yang didapat:
Biaya seleksi (transportasi dan akomodasi untuk wawancara di Bangkok ), biaya perjalanan ke negara yang dituju, biaya hidup, biaya transportasi lokal, asuransi kecelakaan dan kesehatan (secara terbatas), biaya belajar (kursus) bahasa asing, biaya penelitian, biaya angkut (kelebihan) bagasi, dll.

Persyaratan:
§ Warganegara dan bermukim di Banglades, Butan, Brunei Darusalam, Kamboja, RRC, Hong Kong, India, Indonesia, Korea Selatan, Laos, Malaysia, Rep. Maladewa, Myanmar, Nepal, Pakistan, Filipina, Singapur, Sri Lanka, Taiwan, Thailand dan Vietnam

§ Penyandang gelar S2/S3, atau yang berpendidikan dan berpengalaman profesional yang setara (minimal 3 tahun pengalaman mengajar di universitas bagi para sarjana atau minimal 5 tahun pengalaman kerja bagi para profesional lainnya)

§ Maksimum berusia 45 tahun, pada saat pelaksanaan penelitian. Khusus pelamar berusia s/d 50 tahun yang penelitiannya dalam bidang Humaniora diperbolehkan untuk mengikuti seleksi program ini

§ Memiliki kemampuan berbahasa Inggris atau berbahasa negara tuan rumah, sesuai dengan rencana penelitian yang diajukan

§ Bagi mereka yang masih berstatus mahasiswa S2/S3 atau baru menyelesaikan studinya dan memiliki pengalaman kerja kurang dari 1 atau 2 tahun tidak dapat mengikuti seleksi program ini

Proses seleksi terdiri dari:
Seleksi formulir pra-pendaftaran (silahkan email kami dan kami akan kirim formulir tersebut), seleksi formulir pendaftaran lengkap, dan wawancara

Batas akhir pendaftaran periode 2008/2009
16 November 2007 (cap pos)

The Indonesian International Education Foundation (IIEF)
Menara Imperium, Lantai 28 Suite B; Jl. H. R. Rasuna Said, Jakarta 12980 , Indonesia
Tel: (021) 831-7330; Fax: (021) 831-7331
E-mail: scholarship@ iief.or.id, Website: http://www.iief. or.id

Menguji Hasil Diklat Sebulan

October 16, 2007 by Machmud Mubarok

RAMADAN telah berlalu. Kaum Muslimin merayakan kemenangannya mengekang hawa nafsu dengan Idul Fitri. Orang-orang kota pun mudik atau pulang ke udik, untuk merayakan kemenangan itu bersama sanak-keluarga di kampung kelahiran.

Ketika Bandung ditinggal pergi para perantau lokal dan interlokal, suasana sangat lengang. Jalan raya serasa milik seorang. Tapi itu pun tak lama. Giliran pribumi asli Bandung dan sekitarnya yang menyerbu masuk ke pusat kota. Tempat-tempat wisata dan rekreasi jadi tujuan utama.

Kemacetan pun kembali terjadi. Gerundelan, kalau tidak dibilang caci maki, pun kadang kembali terlontar dari mulut yang sebulan sebelumnya terjaga benar. Padahal, puasa masih terasa di tenggorokan. Tapi baru sehari lepas, serasa hidup merdeka. Merdeka makan enak, merdeka makan banyak, dan merdeka lain-lain.

Sesungguhnya, hari-hari mendatang ini merupakan hari yang berat. Karena hasil pendidikan dan latihan (diklat) sebulan penuh bakal diujikan. Sejauh mana kesuksesan seseorang berpuasa, bisa terlihat di hari-hari selepas Ramadan ini.

Jangan sampai hawa nafsu, sebagai elemen yang paling ditahan saat berpuasa, merajalela kembali. Siapapun mereka yang lulus diklat Ramadan, tak peduli pejabat hingga rakyat jelata, seharusnya bisa menunjukkan perilaku yang baik atau akhlakul karimah.

Kebiasaan-kebiasaan buruk pra-Ramadan harus pupus. Mencuri uang rakyat, mencuri hak rakyat, menginjak kaum duafa, sudah bukan lagi perilaku pejabat. Yang terbetik adalah kasih sayang dan berlaku adil terhadap sesama. Karena itulah nilai-nilai yang diajarkan Ramadan kepada kita semua.

Ketika kembali ke tempat pekerjaan masing-masing, ingatlah ajaran Ramadan yang lalu. Saat mata ini hendak bergerilya memandang yang bukan hak, palingkan ke arah yang hak. Ketika telinga ini hendak mendengar gosip murahan, tulikan pendengaran kita. Saat tangan ini hendak berlaku tidak adil, mengambil hak orang lain, ingatlah akan “kepedihan yang luar biasa” di akhirat kelak. Ketika mulut ini hendak membicarakan orang lain dan berghibah, menyombongkan diri, ingatlah bahwa itu sama saja dengan memakan bangkai saudara sendiri.

Seandainya nilai Ramadan bisa diterapkan seutuhnya dalam kehidupan selama sebelas bulan mendatang, sungguh indah hidup ini. Kesabaran menjadi makanan utama, keikhlasan menjadi sarapan pagi, kesalehan menjadi langkah sehari-hari, dan masih banyak lagi. Ah, sungguhkah kita termasuk orang-orang yang mencapai maqam fitrah? Semoga. (*)

Tribun Jabar, Selasa 16 Oktober 2007

Pancasila di Tengah Pertarungan Ideologi

October 3, 2007 by Machmud Mubarok

TAHUN-tahun sebelum Reformasi pecah, setiap malam 30 September, masyarakat Indonesia selalu disuguhi tontonan wajib film Pemberontakan G30S/PKI. Film yang merupakan tafsir Orde Baru terhadap gerakan PKI itu menjadi semacam “textbook” yang kebenarannya harus diamini seluruh rakyat. Tak heran, jika isi otak para pelajar masa itu tentang peristiwa akhir September itu seragam, tak beda sedikitpun.

Begitupun keesokan harinya, tanggal 1 Oktober, selalu digelar upacara, mulai tingkat nasional hingga tingkat kecamatan, yang disebut sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Di tingkat nasional, biasanya upacara itu digelar di pelataran Monumen Pahlawan Revolusi di Lubang Buaya Jakarta.

Sungguh suatu upaya sistematis untuk menanamkan doktrin rezim Orde Baru kepada rakyatnya. Beda tafsir adalah haram, dan jika ada yang berani bersuara sumbang, tudingan subversif jawabannya.

Namun semenjak gelombang Reformasi menerpa negeri ini, pemutaran film dan kegiatan upacara bukan lagi kewajiban. Malah, bermunculan tafsir-tafsir baru atas fakta sejarah kejadian September 1965 itu.

Siapapun sepertinya berhak mengeluarkan bukti dan tafsir baru atas seluruh sejarah yang terjadi di masa Orde Baru, khususnya menyangkut G30S/PKI.

Hal itu sesungguhnya sah-sah saja. Bahkan sangat menguntungkan bagi para sejarawan di negeri ini. Karena, sumber-sumber yang selama Orde Baru bungkam, bisa muncul. Tinggal bagaimana para sejarawan memverifikasi kebenaran fakta itu untuk dijadikan bahan ajar pelajaran sejaran di sekolah-sekolah.

Di sisi lain, sembilan tahun pascareformasi membuat gamang fondasi negeri ini. Pemikiran-pemikiran baru, yang dulu diharamkan, dengan mudah menerobos di sela- sela kehidupan rakyat Indonesia. Nilai-nilai kemasyarakatan pun semakin aus, serba permisif, dan cair.

Dulu, butir-butir Pancasila yang harus dihapal siswa sekolah, secara tidak langsung mengajarkan budi pekerti dan rasa setia kawan serta gotong royong yang tinggi. Namun globalisasi secara tidak langsung menggerus nilai dan norma kehidupan masyarakat Indonesia. Pancasila seolah dilupakan. Butir-butir Pancasila tak lagi ampuh untuk mendidik budi pekerti seorang siswa sekolah.

Tak heran, belakangan ini, muncul kekhawatiran dari sejumlah kalangan, khususnya kaum nasionalis, tentang dasar negara Indonesia, Pancasila. Serbuan dahsyat ideologi barat mengaburkan nilai budaya dan nasionalisme bangsa ini.

Hari ini, 1 Oktober, hari yang biasa diperingati rezim Orde Baru sebagai Hari Kesaktian Pancasila dan belum pernah dicabut pemerintah pasca-Soeharto. Dalam konteks yang lain, Pancasila memang sakti, walau mulai dilupakan, tapi masih kokoh menjadi fondasi bangsa ini.

Sejatinya, Pancasila adalah rumah ideologi yang ideal di Indonesia. Di tengah pertarungan ideologi Barat dan Timur, Pancasila mampu menengahi dan menjembatani seluruh ideologi, pemikiran, dan kepentingan. Setidaknya untuk Indonesia saat ini, Pancasila sudah teruji sebagai sebuah dasar negara. Dan sepatutnya, kita berterima kasih kepada pencetus, pencipta Pancasila ini, bukan melupakannya. (*)

Tribun Jabar, Senin 1 Oktober 2007

Penghargaan Karya Jurnalistik Copa Dji Sam Soe Indonesia 2007

September 22, 2007 by Machmud Mubarok

PENGHARGAAN karya jurnalistik Copa Dji Sam Soe Indonesia kembali digelar. Penghargaan terhadap karya jurnalistik memang sudah menjadi agenda Dji Sam Soe dalam menghargai karya para jurnalis, baik tulis maupun fotografer.

Penghargaan ini terbuka untuk semua jurnalis media cetak dan online di seluruh Indonesia. Penghargaan jurnalistik Copa Dji Sam Soe Indonesia 2007 yang bertema ‘Indonesia Satu Dalam Copa Dji Sam Soe’ ini akan diseleksi oleh para juri-juri berkompeten.

Dibanding penghargaan jurnalistik pada dua musim sebelumnya, ada perubahan untuk musim 2007 ini. Pemberian penghargaan tidak lagi dilakukan di setiap babak, tapi langsung dari Babak I (64 Besar) sampai final. Bila memenuhi kriteria yang telah ditetapkan akan terpilih 5 terbaik untuk kategori tulisan maupun foto.

Wartawan dan fotografer dapat mendaftarkan diri untuk mengikuti lomba ini melalui situs www.djisamsoe. com/karyajurnali stikcopa. Bila hendak mengirimkan karya melalui pos, bisa ditujukan ke PO BOX 4333 JKTM 12700, dengan mencantumkan tulisan pada pojok kiri atas amplop, ”Penghargaan Karya Jurnalistik Copa Dji Sam Soe Indonesia 2007”. Karya ditunggu paling lambat 31 Januari 2008.

Informasi lengkap dan terkini seputar Copa Dji Sam Soe Indonesia 2007 juga dapat dilihat melalui website www.djisamsoe. com. (*)

Penghargaan Tahunan AJI-UNICEF untuk Karya Jurnalistik

September 18, 2007 by Machmud Mubarok

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) bekerjasama dengan The United Nations Children’s Fund (UNICEF) mengadakan seleksi “Penghargaan Tahunan AJI-UNICEF
untuk Karya Jurnalistik Terbaik tentang Anak”

Peliputan tentang anak semakin mendapat perhatian di tahun ini, khususnya dengan mencuatnya kasus penculikan Raisah Ali. Pada tahun sebelumnya, Mohammad Azwar atau Raju, juga mendapat sorotan media. Raju, bocah berusia delapan tahun sempat mendekam di rumah tahanan Pangkalan Brandan Langkat, Sumatera Utara karena berkelahi dengan kakak kelasnya. Pada tahun 2004-2005, kasus busung lapar yang muncul di Nusa Tenggara Timur dengan korban termasuk anak-anak juga mendapat perhatian media.

Dari beberapa kasus, terlihat bahwa media hanya akan memberitakan soal anak ketika ada kasus besar yang menghebohkan. Apakah ini karena pemberitaan tentang anak dianggap kurang layak jual? Pada kebijakan media, peliputan tentang anak ditempatkan pada ranking kesekian.

Penelitian yang dilakukan AJI di tahun 2006-2007 di 7 kota di Indonesia, mendapatkan kenyataan bahwa peliputan tentang anak memang tidak dianggap sebagai isu seksi. Ibaratnya hanya sebagai pelengkap dan tak memiliki daya jual. Dari 132 jurnalis (100%), sebanyak 42 jurnalis (31,81 %) mengatakan, pemberitaan tentang anak sudah dilakukan, meskipun tidak dalam setiap edisi. Sebanyak 54 jurnalis (40,90%) mengaku medianya jarang atau kadang-kadang saja memuat berita soal anak. Lalu sekitar 30 jurnalis (22,72%) menyatakan medianya hampir memuat permasalahan anak setiap edisi terbit. Sedangkan sebanyak 6 jurnalis (4,54%) mengatakan medianya tidak pernah memuat permasalahan anak.

Lalu, apakah media telah ramah pada anak? Apakah media pada saat melakukan peliputan mempertimbangkan psikologis anak? Inilah ide awal yang mendorong AJI-UNICEF untuk memberikan “Penghargaan Tahunan AJI-UNICEF untuk Karya Jurnalistik Terbaik tentang Anak”. Sebelumnya pada penghargaan AJI-UNICEF tahun lalu, isu kekerasan menempati posisi teratas. Banyak jurnalis yang memotret kehidupan remaja di balik terali besi. Setelah itu, isu anak dan kasus-kasus kesehatan menempati urutan berikutnya.

Pada tahun ini kami bermaksud kembali memberikan “Penghargaan Tahunan AJI-UNICEF untuk Karya Jurnalistik Terbaik tentang Anak” dengan memperluas kriteria kepesertaan yang terdiri dari jurnalis media cetak/on line, radio dan televisi. Penghargaan ini diharapkan dapat menampilkan karya jurnalistik yang berbobot dan berprespektif anak.

Ketentuan
1. Karya jurnalistik ( cetak/on line, radio, TV ) berupa feature tentang anak.
2. Setiap jurnalis/media baik media cetak/online, radio dan televisi seluruh Indonesia dapat mengikuti perlombaan ini. Karya dilengkapi dengan fotokopi kartu pers yang masih berlaku.
3. Setiap peserta hanya bisa mengajukan satu karya.
4. Karya peserta harus pernah dipublikasikan pada media massa umum pada periode waktu antara 1 September 2006 – 25 Oktober 2007.
5. Karya harus sudah diterima panitia paling lambat 31 Oktober 2007. Tepatnya pukul : 17:00 WIB.
6. Karya harus dilengkapi dengan pernyataan bahwa karya adalah karya orisinal, bukan saduran, terjemahan dan tidak termasuk advertorial komersial.
7. Ralat, jika ada, harus disertakan.
8. Karya belum pernah memenangkan lomba jurnalistik.
9. Karya yang sudah dikirim ke panitia tidak akan dikembalikan.
10. Keputusan juri tidak bisa diganggu gugat.
11. Untuk karya di media cetak, peserta harus mengirim copy asli kliping beserta soft copy karya yang sudah dimuat. Untuk media online, peserta harus mengirim karya berupa print out yang sudah di-copy langsung dari situs beritanya. Redaktur media online yang bersangkutan juga diminta membuat pernyataan bahwa karya yang dikirimkan memang pernah dimuat di media tersebut.
12. Untuk karya di media radio, peserta harus mengirim karyanya dalam bentuk kaset atau compact disk (CD). Untuk karya di media televisi, peserta harus mengirimkan karyanya dalam bentuk kaset video compact disk (VCD). Diharapkan agar menuliskan nama dan asal media di kepingan CD dan VCD.

13. Hadiah yang diberikan masing-masing sebesar Rp 6,5 juta (pemenang I per kategori), Rp 5 juta (pemenang II per kategori) dan Rp 4 juta (pemenang III per kategori)
14. Kirimkan karya jurnalistik ke Sekretariat AJI Indonesia di : Jl. Kembang Raya 6, Kwitang, Senen, Jakarta Pusat 10420 atau via e-mail ke sekretariatnya_ aji@yahoo. com. Nomor Telepon/fax : 021-3151214/ 021-3151261. Atau hubungi panitia “Penghargaan Tahunan AJI-UNICEF untuk Karya Jurnalistik Terbaik tentang Anak” via email lidbahaweres@ yahoo.com via telepon dengan Alida (HP : 081330392480, 02199587758) atau Minda (HP:08128572252) .

Dewan Juri Lomba Penulisan Anak
I. Dewan Juri Kategori Cetak
a. Santi Kusumaningrum (UNICEF)
b. Willy Pramudya (AJI)
c. Ninuk Mardiana Pambudy (Jurnalis Senior Kompas)
d. Magdalena Sitorus (Komisi Perlindungan Anak)

II. Dewan Juri Kategori TV
a. Dwi Fatan Lilyana (UNICEF)
b. Eddy Suprapto (AJI)
c. Don Bosco (Komisi Penyiaran Indonesia)
d. Irwanto (Peneliti dan Dosen Psikologi Universitas Atmajaya
Jakarta)

III. Dewan Juri Kategori Radio
a. Kendartanti Subroto (UNICEF)
b. Heru Hendratmoko (AJI)
c. Arya Gunawan (UNESCO)
d. Aris Merdeka Sirait (Komnas Perlindungan Anak Indonesia)

Membaca Peta Politik Jawa Barat

September 15, 2007 by Machmud Mubarok

SEKITAR tujuh bulan lagi, rakyat Jawa Barat akan larut dalam ingar-bingar Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jabar. Namun saat ini suasana politik Jabar sudah menghangat seiring geliat dan manuver sejumlah partai politik untuk memunculkan calon-calon gubernur dan wakil gubernur unggulan.

DPW Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jabar memulai manuver dengan menggandeng PKPB. Koalisi ini untuk bertujuan untuk memenuhi persyaratan minimal 15 persen perolehan suara. Dengan koalisi ini, PKS bisa memunculkan calon gubernur dan wakil gubernur secara mandiri. Di kalangan internal, PKS tengah menggodok lima nama untuk diajukan sebagai calon.

Di lain pihak, DPW Partai Amanat Nasional (PAN) Jabar dan DPD Partai Golkar membuka pendaftaran untuk menjaring calon gubernur dan wakil gubernur. Pendaftaran ini untuk menunjukkan bahwa parpol transparan menjaring pemimpin.

PAN memiliki sejumlah nama untuk diajukan sebagai jagoan. Ada Ahmad Adib Zain, Dede Yusuf, Danny Setiawan, dan Irianto “Yance’ Syafiudin. Sementara internal Golkar sejak awal sudah mengusung Danny Setiawan. Sementara untuk pasangannya, sejumlah pihak sudah menyiapkan Uu Rukmana, Ketua DPP Partai Golkar Jabar. Juga nama Yance kembali mencuat untuk dipasangkan dengan Danny.

Sedangkan PDIP, sejak awal juga konsisten mengusung Rudi Harsa Tanaya sebagai cagub atau cawagub. Namun belum terang benar, plot mana yang akan diambil Rudi. Apakah tampil sebagai calon gubernur atau hanya sebagai calon wakil gubernur.

Ini tentu terkait dengan “koalisi” di tingkat nasional. Partai Golkar dan PDIP sudah ikrar untuk jalan bersama menghadapi Pilkada di daerah-daerah. Hal itu yang ditunjukkan saat Pilkada DKI Jakarta dan Pilkada Kota Cimahi. Golkar dan PDIP bergabung bersama aliansi parpol kecil dan menang.

Langkah itu sudah diambil PDIP dengan menggandeng PKB dan 13 partai kecil untuk berkoalisi. Jika dengan koalisi ini PDIP berani memunculkan paket calon gubernur dan wagub sendiri, tentu medan pertempuran semakin ramai dan mengubah positioning. Karena hal itu berarti Rudi tinggal menunggu siapa yang akan dipasangkan dengannya.

Namun menilik apa yang dilakukan PBR, yang notabene anggota aliansi partai kecil dan berkoalisi dengan PDIP, yang justru menggandengan Danny Setiawan dan Rudi Harsa sebagai pasangan ideal, menunjukkan minat Rudi untuk dipasangkan dengan Danny dan menjaga eksistensi koalisi nasional masih kuat.

Sementara partai yang belum memutuskan untuk mendukung siapa, seperti PPP dan Partai Demokrat, walau tidak kentara, tentu sudah bergerak untuk mencari posisi yang menguntungkan.

Dari semua nama calon yang muncul, nama Danny Setiawan, tetap yang menjadi incaran nomor satu. Posisinya sebagai Gubernur Incumbent sangat strategis. Kalkulasinya, jika ingin memenangkan Pilgub, gandeng saja gubernur incumbent. Karena Danny memiliki akar jaringan yang kuat di masyarakat.

Jika Partai Golkar dan PDIP memunculkan calon dari kalangan internal sendiri, bakal terjadi perebutan suara yang sangat ketat. Hal itu berarti pula, pasangan cagub dan cawagub Jabar bisa lebih dari tiga. Satu dari Partai Golkar, satu dari koaliasi PDIP, PKB, dan aliansi parpol kecil, satu dari PPP dan Partai Demokrat atau PAN, dan satu lagi koalisi PKS dan PKPB.

Peta politik ini pasti terus bergerak seiring kian dekatnya hajatan besar demokrasi rakyat Jabar. Kita tinggal menunggu saja, berapa banyak partai yang berkoalisi dan siapa saja yang bakal manggung di Pilgub mendatang. (*)

Tribun, Jumat 14 September 2007