JIKA ada orang bertanya, sekarang ini sedang musim hujan atau musim kemarau, pasti akan bingung menjawabnya. Dibilang musim hujan, tidak juga, karena panas begitu menyengat dan bisa berhari-hari, bahkan berminggu-minggu lamanya. Dibilang musim kemarau, juga tidak. Karena sewaktu-waktu, hujan bisa turun, pagi atau sore hari.
Padahal, dulu sangat mudah membaca musim dan menjadi hafalan anak-anak SD. Musim kemarau terjadi pada April-Oktober, sementara musim hujan Oktober-April. Mudah bukan?
Masa transisi, begitu kalangan pengamat cuaca serta Badan Meteorologi dan Geofisika menyebut keadaan cuaca saat ini. Sebutan transisi itu sudah dikemukakan sejak dua atau tiga bulan lalu. Dan hingga kini ternyata masih masa transisi, belum benar-benar masuk ke musim hujan.
Pergeseran atau perubahan cuaca sudah terjadi sejak beberapa tahun terakhir ini. Akibatnya pun mulai terasa. Misalnya saja, petani, terutama yang tergantung pada hujan, kesulitan menentukan awal masa tanam. Ini berarti produksi padi terlambat. Atau bahkan produksi padi menurun, karena petani memaksakan menanam padi bukan saat masa tanam. Lalu terus merembet ke hilir hingga masalah kekurangan pangan.
Hebatnya lagi, musim transisi atau pancaroba kali ini diwarnai hembusan kencang angin puting beliung di sejumlah daerah. Angin berputar itu tak hanya menyambangi daerah dataran rendah, tapi juga dataran tinggi seperti Bandung. Angin berkecepatan 73 km per jam atau setara dengan 14 knot melaju kencang menumbangkan pohon-pohon.
Tak cukup dengan itu, air laut pasang pun menggenangi sebagian Jakarta. Hal yang tak pernah terjadi sebelumnya. Begitu pula, hujan sehari menyebabkan banding di daerah Kertasari, Kabupaten Bandung, dan mengirim luapan lumpur ke rumah-rumah warga. Musim transisi ini menjadi jeda waktu yang mengerikan, karena bencana seolah mengancam dari berbagai arah.
Adakah cuaca tak menentu saat ini terkait dengan perubahan iklim (Climate Change) atau Global Warming (Pemanasan Global)? Sangat mungkin itu yang terjadi. Perubahan iklim menyebabkan cuaca tak mudah diprediksi. Badai dan angin topan bermunculan di atas khatulistiwa dan memengaruhi musim secara keseluruhan.
Meningkatnya suhu bumi karena efek rumah kaca menjadi salah satu akibat yang harus ditanggung umat manusia. Bisa jadi, cuaca panas dan menyengat di Kota Bandung hari-hari ini, bagian dari pemanasan global itu. Dan tentu, penyebab lokal pun turut menyumbang, seperti penebangan hutan, pembangunan pemukiman yang menggerus tanah konservasi dan sebagainya.
Kita berharap penyelenggaraan Konferensi ke-13 PBB tentang Perubahan Iklim di Bali awal Desember mendatang menghasilkan komitmen kuat negara-negara di dunia untuk memperbaiki kondisi bumi. Kerusakan alam ini sudah begitu parah. Slogan Save Our Earth, sudah lama didengungkan, tapi tak semua pihak hirau.
Luas hutan yang hilang makin tak terkendali, pencemaran udara kian mengkhawatirkan. Eksplorasi alam tak terbarukan terus digenjot. Selama setahun, masyarakat Indonesia hanya menikmati udara bersih dua bulan. Belum lagi ketersediaan air bersih, sebagai tulang punggung kehidupan, yang kian berkurang. Inikah salah satu tanda akan berakhirnya dunia? Wallahu ‘alam bishawab. (*)
NB: Dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Jumat 30 November 2007.