Adakah Cagub-Cawagub yang Memikat Hati Anda?

January 23, 2008

 AKHIRNYA tiga pasangan bakal calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat dipastikan bakal bersaing memperebutkan sekitar 30 juta suara pemilih. Mereka adalah Danny Setiawan-Iwan Ridwan Sulandjana yang didukung Partai Golkar dan Partai Demokrat. Saat Pemilu 2004 lalu, Partai Golkar mendapat 28 kursi, sementara Demokrat 9 kursi. Pasangan ini menyebut diri Da’i.

Lalu pasangan kedua adalah Agum Gumelar-Nu’man Abdul Hakim dengan partai pengusung terbanyak, yaitu tujuh. PDIP, PPP, PKB, PBB, PKPB, PDS, dan PBR berkoalisi mengajukan pasangan Aman ini. Pasangan ketiga adalah Ahmad Heryawan-Dede Yusuf (Hade). Partai pengusung adalah PKS dengan 14 kursi, dan PAN yang mendapat 7 kursi.

Dari sisi kuantitas pendaftar, sebetulnya jumlah tiga pasangan sangat sedikit, dibandingkan dengan banyaknya penduduk Jawa Barat. Tapi setidaknya, nasib Jawa Barat tidak semiris DKI Jakarta, yang kaya akan tokoh nasional berpengalaman, tapi hanya mampu memunculkan dua pasangan calon gubernur dan wakil gubernur dalam Pilkada beberapa bulan lalu.

Walau harus diakui pula, Jawa Barat pun miskin tokoh dan figur. Karena hingga jelang pendaftaran, tokoh-tokoh yang muncul, itu itu juga. Berkutat di lingkaran figur yang sama.
Dari tiga pasangan itu, hanya satu pasangan yang benar-benar fresh dan murni kader partai, yaitu pasangan Hade.

Kita ketahui bersama, Danny Setiawan adalah Gubernur Jabar saat ini. Pasangannya, Iwan R Sulandjana adalah mantan Pangdam III/Siliwangi yang tentu mengenal betul lekuk-lekuk Jawa Barat. Lalu Agum Gumelar adalah mantan Menhub, Menko Polkam, dan Ketua Umum KONI Pusat. Sementara Nu’man masih menjabat sebagai Wakil Gubernur Jabar.

Dari sisi popularitas, nama Danny Setiawan dan Agum Gumelar yang paling nyongcolang. “Kebesaran” nama mereka tentu menjadi modal awal untuk mengeruk dukungan suara. Selain itu, mereka juga didukung partai besar dengan kucuran dana besar pula.

Tapi jangan lupa, pasangan Hade merupakan pasangan alternatif yang memberi harapan perubahan. Setidaknya, mereka adalah tokoh- tokoh baru, menawarkan sesuatu yang fresh. Di lain pihak, partai pendukung mereka pun tak bisa dianggap enteng, khususnya PKS. Selama ini, PKS dikenal sebagai partai dakwah dengan anggota yang sangat loyal dan solid. Dari 8 pilkada yang sudah digelar di sejumlah kota dan kabupaten di Jabar, 5 di antaranya dimenangkan oleh pasangan yang didukung oleh PKS.

Mulai hari ini, masyarakat Jabar akan disuguhi berbagai aksi simpatik para kandidat, walau masa kampanye belum dimulai. Spanduk dan baliho akan semakin banyak bertebaran. “Kesalehan sosial” berupa acara-acara sosial dan bantuan mendadak jadi menu utama untuk mengakrabi calon pemilih. Daerah yang dulu tak pernah dilihat, jadi agenda wajib untuk dianjangi.
Adakah dari ketiga pasangan calon gubernur dan wakil gubernur itu yang akan berhasil memikat hati Anda dan Anda rela memilihnya saat pencoblosan nanti? Itu semua tergantung cara mereka mendekati Anda dan tergantung kejernihan hati Anda untuk bersikap. Saatnya buka mata buka telinga buka rekam jejak untuk menelisik lebih jauh calon-calon pemimpin Tatar Sunda ini. Bagaimanapun, salah satu pasangan di antara tiga pasangan itu bakal menjadi pemimpin kita. Karena itu, jangan salah menentukan sikap. (*)

Advertisements

2008 Senior Journalist Seminar – Jun 8-28 2008 – Honolulu, Hawaii

January 9, 2008

THIS seminar offers senior journalists an opportunity to dialogue, travel, and exchange on issues of the relationship between Asian countries and the United States. The seminar is open to working print, broadcast, and online journalists from the United States and Asian countries with substantial Muslim populations. Application deadline: Jan 31 2008.

http://www.comminit .com/en/node/ 266470
Contact JournalismFellowshi p@eastwestcenter .org

Ayun Sundari
External Relations/Civil Society Liaison Officer
Indonesia Resident Mission
Asian Development Bank
Tel +62 21 5798 0600
http://www.adb.org/ irm

LOMBA PENULISAN ESAI TENTANG PELESTARIAN FILM INDONESIA TAHUN 2008

January 9, 2008

PERFILMAN Indonesia memiliki sejarah yang cukup
panjang dan penuh dinamika. Berawal dari tahun 1926,
diproduksi film Loetoeng Kasaroeng yang merupakan film
bisu pertama di Indonesia. Sepanjang perjalanannya
sampai saat ini, perkembangan perfilman di Indonesia
telah mengalami masa-masa jaya dan masa-masa surut.

Hal ini tidak dapat lepas dari dinamika berbagai aspek
yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Indonesia,
karena film sebagai karya seni merupakan cerminan diri
dari masyarakatnya. Berdasarkan hal itu, maka
film-film yang pernah diproduksi di Indonesia beserta
semua informasi yang berkaitan dengannya perlu
dilestarikan. Karena film merupakan dokumen yang
berharga dan sumber pembelajaran masyarakat.

Berkaitan dengan hal tersebut di atas, dan dalam
rangka Hari Perfilman yang ke-38 tanggal 30 Maret
2008, Perpustakaan Nasional RI bekerja sama dengan
Sinematek Indonesia mengadakan lomba penulisan esai
tentang pelestarian film Indonesia.

Topik/Tema Penulisan:

Pendapat, pandangan dan kritik terhadap pelestarian
film di Indonesia.

Persyaratan Peserta:
1. Mahasiswa, pustakawan, dan masyarakat umum.
2. Melampirkan fotokopi KTP/SIM/Kartu Mahasiswa/Kartu
Karyawan/identitas lain.
3. Melampirkan daftar riwayat hidup.
4. Melampirkan pas foto ukuran 3×4 sebanyak 2 lembar.

Pelaksanaan Lomba:
1. Esai dikirim kepada panitia melaui pos dan paling
lambat tanggal 14 Maret 2008 (cap pos).
2. Pengumuman pemenang lomba penulisan akan diumumkan pada hari Rabu, 26 Maret 2008 di website Perpustakaan Nasional RI: http://www.pnri. go.id.
3. Penyerahan hadiah dilaksanakan pada acara
peringatan Hari Film Nasional ke-58 yang akan
diselenggarakan pada akhir bulan Maret 2008.
4. Esai terbaik akan dimuat dalam majalah Visi Pustaka
terbitan Perpustakaan Nasional RI.

Tata Cara Pengiriman Esai:
1. Peserta lomba dapat mengirimkan lebih dari satu
esai;
2. Panjang esai 10-15 halaman, ukuran kertas A4, spasi
1½, jenis huruf Times New Roman, ukuran huruf 12.
3. Esai dikirim dalam bentuk cetak rangkap 2 (dua) dan
disertai soft file berupa disket atau CD.
4. Esai dikirim kepada panitia selambat-lambatnya
tanggal 14 Maret 2008 (cap pos).
5. Naskah lomba dikirimkan dalam sampul tertutup, pada
sudut kiri atas dicantumkan kode ”LPEPFI – 2008”, dan
dialamatkan kepada Panitia Lomba Penulisan Esai
tentang Pelestarian Film Indonesia melalui pos dengan
alamat:
a/n MOHAMAD FAJAR
Bidang Kerjasama Perpustakaan dan Otomasi
Pusat Jasa Perpustakaan dan Informasi
Perpustakaan Nasional RI
Jl. Salemba Raya No. 28 A Jakarta Pusat

Untuk informasi lebih lanjut hubungi:
Telp. 021-3154864; 3154870 Pswt. 247; 021-3154862
Faks. 021-3103554
Email : m_fajar@pnri. go.id. atau ajangmf2000@ yahoo.com

Kriteria Penilaian:
1. Esai harus memiliki nilai manfaat bagi pengembangan
pengetahuan masyarakat, khususnya mengenai perfilman
nasional;
2. Isi esai harus asli bukan saduran atau terjemahan.
3. Esai belum pernah/tidak sedang dilombakan.
4. Esai belum pernah dipublikasikan di media apapun.
5. Esai yang menjadi pemenang menjadi hak panitia
lomba.
6. Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak
diadakan surat menyurat.

Hadiah:
1. Juara I Rp 5.000.000,- (Lima juta rupiah) dan
piagam penghargaan.
2. Juara II Rp 4.000.000,- (Empat juta ribu rupiah)
dan piagam penghargaan.
3. Juara III Rp 3.000.000,- (Tiga juta rupiah) dan
piagam penghargaan.
4. Juara Harapan I Rp 1.500.000,- (Satu juta lima
ratus ribu rupiah).
5. Hadiah dipotong pajak 15%.

Beasiswa dari India

January 8, 2008

Yth.
Rekan-rekan dan Masyarakat Indonesia,
di Tanah Air

Berikut kami sampaikan info mengenai Beasiswa dari Pemerintah India sebanyak 20 kursi melalui Indian Council for Cultural Relations (ICCR) untuk tahun akademik 2008-2009. Bila bermanfaat mohon diteruskan kepada mereka yang berminat, karena umumnya setiap tahunnya sangat banyak peminat, namun arus informasi mengenai beasiswanya terkadang tidak sampai.

Bagi mereka yang membutuhkan informasi atau penjelasan tambahan, kami membuka waktu dan ruang untuk tanya-jawab melalui laman khusus yang telah kami sediakan di http://ppiindia. wordpress. com. Terima kasih atas perhatian dan kerjasama dari rekan-rekan.

Semoga informasi ini bermanfaat dan kami nantikan kehadirannya di Negeri Gandhi.
New Delhi, 05/01/07
Hormat Kami,

Ketua Umum
Dewan Pimpinan PPI-India

Pan Mohamad Faiz
========

LAMPIRAN

General Cultural Scholarship Scheme(GCSS)  Government of India, through the General Cultural Scholarship Scheme (GCSS) administered by Indian Council for Cultural Relations (ICCR), has announced the grant of 20 scholarships for
Indonesian students and 10 scholarships for students from Timor Leste for the academic year 2008-2009 in the fields of Arts, Architecture, Literature, Commerce, Law, Politics, International Relations, Islamic Studies, Science, etc. and degree courses in Engineering, Pharmacy and Agriculture. The scholarships are also extended for doctoral and post doctoral courses.

Interested and eligible candidates may download the Application Form, General Instructions to applicants and Instructions to Candidates for filling the Application Form. The last date for receiving application forms duly completed in all respects in 6 (six) copies alongwith all supporting documents is 31st January, 2008. All candidates will be required to appear in a test in the English language which will be held on 9th February, 2008.

Candidates applying from Sumatera may send their applications to:
Mr. M.S. Mandhaiya
Consul General
CONSULATE GENERAL OF INDIA – MEDAN
19, Jl. Uskup Agung A. Sugiopranoto
Medan 20152, Sumatera Utara
Ph. 061-4531308, 4556452

Candidates applying from Bali may send their applications to:
Mr. Awanish Tiwari
Deputy Director
INDIAN CULTURAL CENTRE BALI
Jl. Raya Puputan No. 42-44
Renon – Denpasar – Bali
Ph. 0361-241978

All other candidates from other parts of Indonesia may send their applications to:
Ms. Anju Ranjan
Second Secretary (Press, Info, Education)
Embassy of India
Jl. H R Rasuna Said Kav S-1
Kuningan, Jakarta Selatan -12950
Ph. 021-5204150/ 52/57

For further information of different scholarships please visit:
Embassy of India Jakarta: http://www.embassyo findiajakarta.
Wordpress PPI-India: http://ppiindia. wordpress. com

Impulse Fellowship 2008 ‘MENJADI INDONESIA’

January 8, 2008

IMPULSE (Institute for Multiculturalism and Pluralism Studies)  membuka program Fellowship 2008 yang bertema ‘Menjadi Indonesia’

Abstraksi
Terkikisnya nasionalisme, gempuran globalisasi dan politik
sektarian membuat identitas “berindonesia” sebagai peker-jaan rumah yang tak kunjung selesai. ‘Menjadi Indonesia’ dapat dipahami dalam berbagai penafsiran, yang dioperasio-nalisasikan  sesuai dengan prinsip dan keyakinan masing-masing.

Seringkali,  identitas berindonesia mengalami kekaburan akibat dari trauma  rezim masa lalu. Tidak adanya jaminan sosial, sistem negara yang  memihak golongan tertentu da mematikan golongan marjinal, hingga budaya non produktif menjadi problem atas identifikasi Indonesia.

Identitas ke’aku’an, identitas dan militansi kedaerahan,
keagamaan, bahkan politik organisasi menjadikan keindone-siaan terus mengalami dekonstruksi. Kecompangan- kecompangan tersebut berpengaruh terhadap menipisnya kebanggaan sebagai bangsa Indonesia.

Monokulturalitas klaim kebenaran dalam sistem ide, gaya hidup, hobi, keyakinan, agama, hingga kesukuan membuat pengkotak-kotakan masyarakat. Setiap kelompok memba-ngun zona nyaman sendiri.

Interaksi dalam komunalitas tersebut menyebabkan kekhusyukan kelompok yang secara tak langsung berakibat pada minimnya ruang interaksi bersama kelompok lain. Pada sisi lain, semua golongan akan berperan dalam membangun konstruksi identitas suatu bangsa.

Lalu bagaimanakah identitas keindonesiaan ini dimaknai dan
dipahami ? IMPULSE mengajak anda untuk memaknai, mengkritisi, dan menemukan bentuk ‘MENJADI INDONESIA’. Program fellowship ini adalah penulisan berbasis riset yang mengangkat potret masyarakat sebagai pembentuk identitas ‘Indonesia’. Harapan bagi bangsa ini
adalah Indonesia yang lebih beradab melalui penghormatan,
pengertian, toleransi dan pemahaman terhadap perbedaan pada setiap manusia, dan bahwa segala tindak yang kita lakukan merupakan refleksi pribadi sebagai ‘duta Indonesia’ dalam segala zonasi waktu dan ruang.

Tujuan
Membangun kesadaran dan mengkritisi identitas keindonesiaan
Mencari bentuk dan kontekstualisasi identitas ‘menjadi
Indonesia’ kekinian

Misi
Riset diutamakan pada individu yang berproses, mencari, menjadi subkultur, atau melakukan perlawanan identitas keindonesiaannya.

Program fellowship ini merupakan kesempatan bagi akademisi, seniman, aktivis, dan enterpreneur muda untuk melakukan penulisan berbasis riset.

Peserta
Peserta fellowship kurang dari 30 tahun pada Januari 2008.
Peserta fellowship memiliki ketertarikan di bidang multikul-turalisme.
Peserta fellowship adalah lulusan atau mahasiswa S1 / S2 yang menaruh minat pada studi multikulturalisme dan pluralisme.
Peserta fellowship adalah Warga Negara Indonesia.

Syarat dan ketentuan
Hasil penelitian yang diharapkan adalah tulisan ilmiah dengan pendekatan populer, komprehensif, dan berguna bagi perkembangan keindonesiaan.

Syarat dan kelengkapan :
Proposal ditulis secara artikulatif dan komunikatif dalam format bebas.
Proposal harus menjelaskan latar belakang masalah, signifikansi riset dengan tema fellowship, rumusan masalah, metode penelitian, dan analisis data, maksimal 6 halaman (1 ½ spasi, font 12, dan menyertakan soft copy). Peserta juga membuat rencana penelitian selama 4 bulan.
Peserta melampirkan surat pernyataan menyelesaikan program.
Daftar riwayat hidup dan pas foto 4 x 6 sebanyak 2 lembar.
Peserta fellowship wajib menyelesaikan tulisan minimal 80 halaman dengan format sesuai ketentuan dalam waktu 3 (tiga) bulan.

Hasil penulisan fellow dapat dibukukan dan dicetak serta diubah dalam format buku.

Fasilitas bagi fellow terpilih
ruang dan fasilitas kerja
perpustakaan
bimbingan penelitian
konsultasi penulisan
makan siang
1 eksemplar buku/bulan
akses internet
pembukuan hasil penulisan dan penulis menerima royalti

Waktu
Penerimaan proposal ditutup pada 30 Januari 2008
Proses seleksi dan pengumuman proposal terpilih pada bulan
Februari 2008
Proses penelitian dan penulisan : Maret-Juli 2008

kontak dan informasi

IMPULSE
Ranggabumi
Jl Cempaka 9, Deresan, Yogyakarta 55281
Telp : 0274-7101997
email : office@impulse. or.id

Penimbun Selalu Jadi Kambing Hitam

January 8, 2008

HARI-hari belakangan ini, antrean panjang warga terlihat di sejumlah sudut Kota Bandung. Warga, yang kebanyakan wong cilik pengguna minyak tanah, berharap mendapat jatah pembelian minyak tanah dari pangkalan minyak dekat tempat tinggal mereka.

Minyak tanah menjadi barang yang sulit didapat. Harganya pun melambung tinggi. Tak heran, setiap kedatangan pasokan minyak tanah ke pangkalan, langsung diantre warga. Merekalah para pengguna minyak tanah yang belum mendapat jatah tabung dan kompor gas hasil konversi.

Pekan lalu, pejabat Pertamina di Bandung mengatakan, memang ada pengurangan pasokan minyak tanah dari Pertamina ke agen dan pangkalan-pangkalan minyak. Besarnya hingga 60 persen. Terutama untuk daerah yang sudah mendapat jatah konversi gas.

Tapi hari kemarin, pernyataan itu dibantah. Tak ada pengurangan pasokan, katanya. Yang ada keterlambatan pasokan, karena hari libur.

Namun tetap saja antrean warga ini membuat pejabat kota kelimpungan dan kelabakan. Sampai-sampai memerlukan datang langsung ke Kantor Pertamina untuk menanyakan masalah kelangkaan minyak tanah di pasaran. Jawaban yang disampaikan pun tetap sama. Pasokan tidak berkurang, hanya distribusi yang terlambat, karena hari libur.

Dan ditambah satu hal lagi yang tak kalah penting. Kemungkinan ada spekulan yang bermain. Mereka menimbun minyak tanah untuk keperluan atau kepentingan sendiri. Bisa jadi penimbun itu adalah sebuah keluarga, yang masing-masing anggota keluarganya membeli satu jeriken besar minyak tanah untuk stok kebutuhan rumah tangga.

Dengan alasan takut kehabisan, hal itu sah-sah saja. Sangat mungkin pula, para penimbun dan spekulan itu adalah agen- agen yang sengaja ingin mengambil keuntungan besar dari kelangkaan minyak tanah.

Tapi itu baru kemungkinan dan dugaan, karena tak pernah dibuktikan. Yang terjadi adalah, pengambinghitaman spekulan dan penimbun minyak sebagai biang kerok kelangkaan minyak. Dan itu terjadi sejak dulu, bukan sekarang saja.

Sampai-sampai, Gubernur Jabar, Danny Setiawan pun meminta aparat untuk menindak tegas para penimbun minyak tanah. Dan Kapolda Jabar pun dengan sigap telah memerintahkan aparatnya untuk mengawasi distribusi minyak tanah.

Tapi tetap saja terjadi antrean warga mencari minyak tanah.
Setiap ada operasi pasar, di situlah orang-orang rela menanti walau didera hujan. Bagi sebagian besar warga, minyak tanah masih menjadi urat nadi penghidupan. Masih banyak penjual dagangan, gorengan, dan lain-lain yang setia menggunakan minyak tanah.

Lebih mengherankan lagi, setiap tahun berlangsung siklus kelangkaan minyak tanah, kok si spekulan dan penimbun minyak tanah itu susah sekali dicarinya. Yang paling gampang itu memang menunjuk jari. Apalagi kalau yang ditunjuk itu oknum, spekulan lagi. Karena namanya spekulan, ya susah mencarinya. Di setiap momen, pasti ada yang namanya spekulan. Sekarang tinggal pintar- pintarnya kita saja, menangkap spekulan atau justru jadi spekulan. (*)

Tribun Jabar, 4 Januari 2007

Penghargaan Jurnalistik untuk Liputan Isu Perburuhan

January 2, 2008

ISU perburuhan dinilai kurang mendapatkan perhatian, utamanya dari media. Padahal, jika tak muncul ke permukaan melalui pemberitaan media, isu-isu semacam ini kerap diabaikan. Peliputan media yang menyangkut isu perburuhan sangat berharga untuk mengetuk kesadaran pengusaha dan penentu kebijakan agar lebih memperhatikan kepentingan mereka.

Oleh karena itulah, Aliansi Jurnalis Independen (AJI), American Centre for International Labour Solidarity (ACILS) dan Friedrich Ebert Stiftung (FES) menyelengarakan “Penghargaan Jurnalistik untuk Liputan Isu Perburuhan”
PERSYARATAN
1. Lomba ini terbuka bagi setiap orang yang berprofesi sebagai jurnalis di media cetak, online, radio dan televisi.
2. Tulisan yang dilombakan berbentuk reportase/feature/ berita analisis
3. Tulisan telah dipublikasikan di media cetak, media online, radio dan televisi, pada Januari 2007 hingga Januari 2008
4. Setiap peserta bisa mengirimkan maksimal dua (2) karya untuk dilombakan
5. Materi dikirim dalam bentuk:
a. Cetak dan online – Fotokopi atau kliping naskah
b. Radio – Script naskah dan materi audio dalam format CD
c. Televisi – Script naskah dan materi audio visual dalam format DVD
6. Materi paling lambat diterima oleh Sekretariat AJI pada 5 Februari 2008.
7. Pengiriman materi disertai fotokopi kartu pers
PENILAIAN
Unsur-unsur yang dinilai: pemilihan tema, perspektif, dan kedalaman serta gaya tulisan
DEWAN JURI
Wartawan senior media cetak, radio, televisi, serta perwakilan dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI), American Centre for International Labour Solidarity (ACILS) dan Friedrich Ebert Stiftung (FES), dan International Labour Organization di Jakarta
HADIAH (untuk masing-masing kategori)
Total hadiah yang akan diberikan sebesar Rp 22.500.000 untuk tiga (3) pemenang
PENGUMUMAN DAN PENERIMAAN HADIAH
Keputusan Dewan Juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.
Pengumuman dan penerimaan hadiah akan diselenggarakan pada bulan Maret 2008.
PENGIRIMAN NASKAH
Materi dikirimkan melalui pos atau kurir ke Sekretariat AJI Jl. Kembang Raya No. 6 Kwitang, Senen, Jakarta Pusat 10420. Telp. 021-3151214 Faks. 021-3151261 atau melalui e-mail ke sekretariat@ ajiindonesia. org, atau sekretariatnya_ aji@yahoo. com.
Informasi lebih lanjut, hubungi: Judith [judithkristi@ yahoo.co. id] HP 0813-19100993

Memanas, tapi tak Membawa Perubahan

December 29, 2007

CATATAN POLITIK REGIONAL JAWA BARAT
Oleh: Machmud Mubarok, Dedi Herdiana, dan Ichsan

SEKELOMPOK orang berseragam organisasi massa dan kepemudaan bergerak menuju pusat kota Indramayu. Sambil berteriak-teriak menumpahkan kekecewaan, mereka mencabuti spanduk-spanduk dukungan terhadap “Danny-Yance” yang dipasang di sejumlah ruas jalan kota Indramayu. Cat piloks mereka semprotkan untuk menutup wajah Danny di sebuah billboard besar. Tak puas hanya mencopot, massa pun membakar spanduk dan baliho-baliho itu. Mereka marah karena Bupati Indramayu, Irianto MS Syafiuddin, akrab disapa Yance, tidak dipilih Partai Golkar mendampingi calon gubernur, Danny Setiawan. Bagi mereka, sosok Yance adalah representasi masyarakat Pantura, yang selama ini mereka anggap tersisihkan dalam percaturan politik Jawa Barat. Peristiwa itu berekor. Tuntutan agar wilayah Pantura ömerdekaö dari Jawa Barat pun mencuat kembali.

*****

TAHUN 2008 adalah tahun paling krusial bagi Jawa Barat. Situasi sosial dan politik akan bergejolak. Hal itu disebabkan, 16 kabupaten/kota menggelar pemilihan kepala daerah (pilkada) dalam waktu yang berdekatan. Dan di puncak pira-mida, Pemilihan Gubernur Jabar menjadi pusat pergeseran peta politik Jabar.

Pemilihan Gubernur Jawa Barat merupakan pilkada yang sangat strategis. Sebagai daerah penyangga ibukota negara, posisi Jawa Barat tentu diperhitungkan, baik dari sisi politik, sosial, dan ekonomi. Setidaknya, pemimpin di provinsi itu memiliki daya tawar yang tinggi, dalam kaitannya dengan otonomi daerah.

Di sisi lain, Jawa Barat adalah provinsi dengan jumlah pendu-duk terbanyak. Data terakhir BPS Jabar menunjukkan, jum-lah penduduk Jabar saat ini adalah 39.130.736 jiwa. Lebih banyak 2 juta jiwa dari Jatim atau 7 juta jiwa dari Jawa Te-ngah. Dengan jumlah penduduk yang gemuk, jumlah pemilih pun paling banyak. Sedikitnya ada 29,3 juta warga yang me-miliki hak pilih pada Pilgub 2008 mendatang.

Karena posisinya yang strategis sebagai lumbung suara ter-besar itulah, Jawa Barat menjadi incaran partai politik, ter-utama partai politik besar, untuk merebut kursi Jabar 1. Langsung atau tidak langsung, kemenangan di Pilgub Jabar, menjadi bekal signifikan menghadapi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2009.

Sebagai pemenang Pemilu 2004 dengan raihan 29 kursi, PDIP tak ingin kehilangan muka di Tatar Sunda. Merebut kemenangan, berarti sudah menggenggam sebagian amunisi menuju Pilpres 2009. Terlebih, PDIP secara nasional menar-getkan untuk memenangkan 40-50 persen pilkada. Menurut Ketua DPP PDI P Bidang Politik dan Pemenangan Pemilu, Tjahjo Kumolo, hasil pilkada ini juga dianggap sebagai ujian sebelum menuju pelaksanaan Pemilu 2009.

“Target tersebut didasarkan pada kondisi peta politik dina-mis hasil Pemilu 2004 di tiap daerah,” kata Tjahjo, beberapa waktu lalu.

Begitu pula halnya dengan Partai Golkar. Golkar menca-nangkan merebut 60 persen kemenangan pilkada di seluruh Indonesia. Sayangnya, dari 323 Pilkada (gubernur, bupati, dan walikota) yang telah berlangsung sejak tahun 2005 hing-ga November 2007 ini, Partai Golkar baru memenangkan 115 atau 35 persen.

Pemenang Pilgub Jabar akan diuntungkan pada Pilpres 2009 juga dilihat pengamat politik dari Unpad, Dede Mariana, se-bagai hal yang wajar. Karena, kata Dede, partai yang berhasil membawa calonnya terpilih sebagai gubernur dan wakil gu-bernur periode 2008-2013, dalam politik praktis akan me-miliki akses yang lebih besar terhadap sumber sumber ke-kuasaan yang potensial digunakan dalam Pilpres. Kelebihan ini tentunya menjadi nilai tambah yang dapat digunakan un-tuk melakukan lobi politik dalam Pilpres nanti.

“Sikap parpol yang menjadikan Pilgub sebagai landasan un-tuk menghadapi Pilpres 2008 merupakan hal yang wajar da-lam praktik politik, karena saling keterkaitan antara dina-mika politik di daerah dengan di tingkat pusat. Apalagi Jabar memegang posisi strategis sebagai daerah penyangga ibu-kota, dengan jumlah pemilih yang cukup besar yakni sekitar 29 juta calon pemilih. Maka seringkali dinamika politik di Ja-bar dikaitkan dengan pertarungan politik para elite di Jakar-ta,” analisis Dede.

Pertarungan elite ini juga terlihat saat pengusungan cagub dan cawagub. Untuk memunculkan pasangan Agum Gumelar dan Rudi Harsa Tanaya, DPD PDIP Jabar harus tarik-mena-rik, baik dengan DPP PDIP maupun dengan partai lain yang ingin menyandingkan Agum dengan calonnya. Sampai kini, baru pasangan ini yang terlihat lumayan solid. Sementara partai lainnya, masih mencari cagub atau cawagub.

Ketidaksiapan parpol memunculkan kadernya ini pula yang sesungguhnya menyebabkan tahapan Pilgub diundur, selain alasan dana belum cair.

Semakin meruncing dan memanasnya situasi politik Jabar jelang Pilgub Jabar 2008, menjadikan tingkat kerawanan ke-amanan juga cukup tinggi. Kasus perusakan baliho dan span-duk di Indramayu serta demo-demo ketidakpuasan pelaksa-naan Pilkada di Kabupaten Purwakarta, hanyalah setitik api yang bisa membesar, jika tidak diwaspadai sejak dini.

Hal itu pula yang diingatkan pengamat politik dan intelijen, Herman Y Ibrahim. Herman mengatakan, situasi memanas ini akan terus terjadi sepanjang 2008. Namun ia lebih meng-khawatirkan, situasi panas ini tidak akan membawa per-ubahan apapun pada masyarakat Jabar.

Kerawanan dari sisi keamanan, menurut Ketua KPU Jabar, Setia Permana, terjadi di semua tahapan pelaksanaan Pil-kada di Jawa Barat. “Semua tahapan Pilkada itu rawan, baik itu tahap pencalonan, penetapan calon, pemungutan suara, penghitungan suara, maupun penetapan pemenang,” ujar Setia.

Karena itu pula, Kapolda Jabar, Irjen Pol Sunarko Danu Ardanto, menegaskan, pihaknya siap mengamankan pelaksanaan pemilihan gubernur dan pilkada di 16 kabupa-ten/kota di Jawa Barat pada tahun 2008 mendatang. Kota Cirebon adalah kota pertama yang menggelar pilkada di ta-hun 2008, disusul Kabupaten Purwakarta.

“Selama ini pelaksanaan pilkada di Jawa Barat relatif aman dibanding daerah lain. Hal ini terjadi karena ridla Allah, rasa ikut memiliki dari warga Jawa Barat, dan sinergitas antara pihak kepolisian dengan semua pihak terkait,” ujar Kapolda.

Di lain pihak, Herman Ibrahim melihat, panasnya situasi po-litik itu tidak akan turut “membakar” isu pemekaran wila-yah. Karena masalah pemekaran itu tidak hanya cukup de-ngan adanya keinginan yang disuarakan kaum elitenya, tapi pemerintah pusat pun akan benar-benar mengkaji soal perlu atau tidaknya suatu daerah dimekarkan dengan dasar peraturan dan perundang-undangan,” kata Herman.

Herman menyayangkan wacana pemekaran di wilayah Pan-tura yang muncul kembali di Indramayu belakangan ini, ter-jadi setelah DPD Golkar Jabar tidak mengusung Yance, Bu-pati Indramayu, sebagai cawagub.

“Kondisi ini menjadi tidak cantik. Karena memunculkan ke-san pemekaran wilayah itu muncul dari suara individu yang digiring menjadi suara publik. Padahal seharusnya itu di ba-lik, dengan semangat perubahan menuju peningkatan kese-jahteraan yang lebih baik, seorang individu harus membawa suara publik,” papar Herman.

Dede pun menyatakan, wacana pemisahan Pantura dari Ja-bar tidak akan menguat pada tahun 2008, apalagi diikuti wi-layah lain. “Kemungkinan besar tidak akan menguat, karena untuk memunculkan wacana pemekaran diperlukan penyan-dang dana yang cukup besar agar bisa mendorong berkem-bangnya gerakan sosial dan gerakan politik menuntut peme-karan. Dan jika hanya kepentingan politik sesaat, apalagi ti-dak didukung kekuatan politik dan kapital yang signifikan a-kan sulit mendorong berkembangnya tuntutan pemekaran,” kata Dede.

Meski tahapan Pilkada dan situasi keamanan 2008 dinilai rawan, Kapolda Jabar optimistis Jabar akan tetap aman. “Ki-ta terus memantau perkembangan dan kami percaya ma-syarakat Jawa Barat memiliki kesadaran untuk menjaga si-tuasi kamtibmas yang kondusif,” ujarnya.

Kita tentu berharap hal yang sama. Pilkada di kabupaten/kota serta Pilgub Jabar akan berjalan lancar. Namun yang patut dipertanyakan, akankah pilkada-pilkada dan Pilgub Jabar 2008 membawa perubahan signifikan untuk kesejah-teraan, ataukah justru akan memunculkan konflik horizontal di tengah masyarakat? Kita tinggal menunggu saja.(*)

Tribun Jabar, Sabtu 29 Desember 2007.

Persibku Sayang, Persibku Malang

December 29, 2007

LENGKAP sudah perjalanan Persib. Maung Bandung itu kehilangan taring di akhir-akhir Liga Indonesia 2007. Impian untuk menjadi juara Liga, atau sekadar berlaga di Stadion Senayan, pupus sudah. Kehilangan angka saat melawan Pelita Jaya Purwakarta, semakin membenamkan Persib dari tangga 8 Besar.

Digelontori belasan miliar dari APBD 2007, ternyata tak membuat prestasi Persib jadi kinclong. Posisi nomor wahid di putaran pertama tak mampu dipertahankan awak Persib. Justru di putaran kedua ini, seluruh persoalan seakan mengemuka. Mulai dari transfer pemain, gaji, dan puncaknya adalah mundurnya Arcan Iurie dari posisi pelatih.

Apa sesungguhnya yang kurang di tubuh Persib? Pemain? Oke, secara kualitas, bagus, dan merata. Tidak kalah dengan tim lain. Bekamenga, Barkawi, Eka Ramdani, dan Zaenal Arief, adalah nama- nama yang dengan kemampuan bagus. Belum pemain lainnya yang tak kalah bagusnya. Pelatih? Saat masih dipegang Iurie, tentu kita tidak menyangsikan kemampuan Iurie.

Profesional? Ini yang perlu dipertanyakan. Saat beberapa pemain mempersoalkan gaji yang telat, tentu harus menjadi bahan pemikiran serius manajemen. Ketika beberapa pemain asing bingung dengan batas akhir kontrak, tentu ini terkait dengan profesionalitas manajemen. Bagaimana dulu saat membuat kontrak? Kok bisa-bisanya pemain hengkang begitu rupa, di saat genting ketika Persib membutuhkan pemain.

Lantas bagaimana soal semangat pemain? Faktor ini yang perlu digenjot terus. Agar slogan “Persib Nu Aing” menjadi langkah kerja keras setiap pemain. Tak hanya terdengar keras dalam slogan, tapi juga membuktikan kerja keras di lapangan. Soliditas dan solidaritas, serta percaya pada teman dan pada pelatih, adalah hal-hal remeh yang menjadi santapan sehari-hari pemain Maung Bandung dan ditunjukkan saat bermain.

Benarlah ungkapan Dede Iskandar. Mantan pemain belakang Maung Bandung itu masih berharap pemain Persib ekstra semangat di dua partai sisa. Bagaimanapun, partai sisa itu menentukan langkah Persib untuk menatap Liga Super.

Terkait kegagalan pada Liga Indonesia 2007 ini, tentu kata maaf dari pengurus tak cukup memupus kesedihan, kegundahan, kekecewaan, dan ke-seubeul-an, semua pendukung setia Persib. Walau begitu, fanatisme pendukung Persib tak akan pernah luntur. Di Liga manapun Persib bermain, pasti terus didukung. Liga Indonesia, Liga Super, Divisi Utama, atau Divisi I sekalipun, Persib tetap memiliki Bobotoh.

Kini saatnya, Persib memikirkan liga-liga di masa depan. Persiapan lebih matang biasanya memberi hasil yang lebih baik. Mulai dari sekarang, Persib sudah harus menyiapkan pasukan untuk liga 2008. Saatnya pula, Persib melirik kemampuan pemain-pemain muda yang main di klub. Perbaikan sistem pembibitan pemain merupakan syarat utama untuk mendapatkan pemain jempolan. Sehingga saat berlaga di Liga, tidak terlalu mengandalkan pemain asing, apalagi yang suka jalir jangji.

Mudah-mudahan, Persib mendatang adalah Persib yang profesional di segala lini. Manajemen, pemain, pelatih, dan lain-lain yang mendukung kesolidan Maung Bandung, tanpa menghamburkan uang rakyat. (*)

NB: Dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Senin 24 Desember 2007

Pertarungan Elite di Detik Terakhir

December 29, 2007

KONSTELASI politik Jawa Barat mendekati berakhirnya masa pengembalian formulir pendaftaran calon gubernur (cawagub) dan calon wakil gubernur (cawagub) semakin memanas. Namun bisa dikatakan, belum ada pasangan yang betul-betul fiks, mantap, dan kokoh, bakal benar-benar melaju sebagai cagub dan cawagub.

Satu contoh saja, pasangan Agum Gumelar dan Rudi Harsa Tanaya yang diusung PDIP. Surat keputusan DPP PDIP memang mengamanatkan para kader partai banteng ini untuk memenangkan Agum-Rudi. Namun PPP pun mengklaim Agum bakal berpasangan dengan Nu’man Abdul Hakim.

Sampai kini, klaim siapa yang paling sahih, masih belum terjawab. Ini disebabkan sikap diam Agum Gumelar yang belum secara terbuka menyatakan kesediaannya diusung PDIP ataukah maju bersama Nu’man.

Partai Golkar sudah jelas mengusung Gubernur incumbent, Danny Setiawan, sebagai calon gubernur. Namun siapa yang bakal mendampinginya, masih belum diputuskan. Tinggal dua nama yang masuk dalam hitungan Partai Golkar untuk menjadi cawagub, yaitu Iwan R Sulandjana, mantan Pangdam III/Siliwangi, dan Ahmad Heryawan, cawagub dari PKS Jabar.

Golkar tengah menghitung secara matang calon pasangan Danny ini. Karena hanya dua nama saja yang tersisa, pilihannya gampang- gampang susah. Pilih nama yang familiar di masyarakat Jabar dan berpengalaman bekerjasama dengan incumbent tapi tidak memiliki basis massa partai, atau pilih nama yang tidak begitu familiar, tapi memiliki basis massa partai yang sangat solid. Di sisi lain, Partai Golkar pun harus mempertimbangkan pasangan calon lain, seandainya Agum-Nu’man benar-benar jadi kenyataan. Jadi tinggal seperti apa perhitungan elite Partai Golkar untuk memutuskan pasangan yang diharapkan menang dalam Pilgub.

Sementara partai-partai lain pun masih memiliki peluang untuk mengajukan calonnya. Jika tidak jadi berpasangan dengan Agum, jelas Nu’man harus maju dengan dukungan partai-partai lain. Belum lagi PKS, jika cawagubnya tidak diminati Partai Golkar. Tentu bakal ada pemetaan politik terbaru untuk memunculkan calon alternatif.

Bisa dipastikan, siapa yang bakal maju menjad cagub-cawagub baru bisa diketahui secara pasti saat detik-detik terakhir penutupan pengembalian formulir pendaftaran, Jumat 14 Desember 2007. Pertarungan elite akan semakin keras, dan kian menegangkan.

Dalam konteks proses awal Pilgub seperti saat ini, benar belaka bahwa politik adalah kepentingan dan cara untuk mencari kekuasaan. Sementara masyarakat awam, rakyat kebanyakan, hanya bisa menonton saja pertarungan elite, nun di atas sana itu. Siapa yang bakal jadi cagub dan cawagub untuk mereka pilih saat pencoblosan 13 April 2008, mereka lebih tidak tahu lagi. (*)

NB: Dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Senin 10 Desember 2007